Rapat koordinasi di Aceh itu sempat tersendat oleh basa-basi. Wakil Ketua DPR Saan Mustopa langsung angkat bicara, minta agar sapaan 'Yang Terhormat' yang bertele-tele itu dihilangkan saja. Baginya, formalitas yang terlalu panjang justru menghambat kerja nyata.
Di sisi lain, pakar komunikasi Firman Kurniawan dari UI mencoba menelusuri asal-usul kebiasaan ini. Menurutnya, sapaan semacam itu sebenarnya punya fungsi simbolis. "Itu sebetulnya sebuah bentuk simbolisasi penghormatan," jelas Firman, Rabu (31/12/2025).
"Jadi mungkin selama ini di berbagai forum, simbolisasi itu diwujudkan dengan menyebut 'Yang Terhormat'.
Dalam konteks rapat di Aceh tadi, menurut Firman, penyebutan itu bisa dimaknai sebagai bentuk penghormatan para kepala daerah terhadap wakil rakyat yang datang. Namun begitu, ia tak menampik bahwa praktiknya kerap berlebihan.
"Seringkali ketika diterapkan, acaranya jadi terasa terlalu panjang," ucapnya. Bayangkan, nama harus disebutkan satu per satu. Dan di Indonesia, urutan dan kelengkapan nama bisa jadi masalah sensitif sendiri bagaimana jika ada yang tertinggal?
Jadi, inti persoalannya bukan pada makna hormatnya, melainkan pada efisiensi. Ritual kata-kata yang berlarut-larut itu, di tengah situasi darurat pascabencana, terasa janggal. Nuansa naratifnya sederhana: terkadang, untuk langsung ke pokok masalah, kita perlu mengesampingkan beberapa protokol yang sudah usang.
Artikel Terkait
Israel Kerahkan Pasukan Besar di Al-Aqsa, Palestina Sebut Akan Ada Pembatasan Ketat
Imlek 2026 Jatuh 17 Februari, Ini Makna dan Pilihan Ucapan untuk Rekan Kerja
Babak Kelima Piala FA 2025/26 Sajikan Duel Sengit Newcastle vs Man City
Mayat dalam Koper Ditemukan di Rumah Kosong di Brebes