Resonansi Budaya: Kunci Exhuma Rebut Hati 2,6 Juta Penonton Indonesia

- Selasa, 30 Desember 2025 | 22:20 WIB
Resonansi Budaya: Kunci Exhuma Rebut Hati 2,6 Juta Penonton Indonesia

Kesuksesan film Korea Selatan "Exhuma" di Indonesia ternyata cukup fenomenal. Bagaimana tidak, film horor ini berhasil menarik perhatian lebih dari 2,6 juta penonton di tanah air. Lantas, apa rahasianya? Menurut Ssun Kim, Chief Marketing Officer CGV Indonesia, kunci utamanya terletak pada resonansi budaya yang kuat.

Hal ini ia sampaikan dalam sebuah diskusi yang digelar Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bersama The Korea Foundation, belum lama ini di Jakarta.

"Jadi dari film Exhuma ini, budaya yang keluar dari filmnya itu sangat mempunyai resonansi atas budaya yang ada di Indonesia," ujar Ssun, yang berbicara dalam bahasa Korea lalu diterjemahkan.

Ia lantas memberi contoh konkret. Budaya pemakaman yang ditampilkan dalam film, misalnya. "Dan juga di film ini untuk pemakamannya itu kan nggak pakai kremasi, yaitu ceritanya itu mengenai dikubur. Nah, itu juga sangat resonate sama orang-orang di Indonesia yang biasanya kalau misalnya emang ada yang meninggal itu, kebanyakan dari orang-orang yang dari agama Muslim itu pasti kan enggak boleh dikremasi, bolehnya itu adalah dikubur," jelasnya.

Tak heran, kesuksesan itu sampai membuat sejumlah jurnalis dari Korea datang ke Indonesia. Mereka penasaran, ingin menyelidiki alasan di balik pencapaian yang luar biasa ini.

Ketika diskusi dibuka, para peserta punya pendapat beragam. Ada yang menyebut selera penonton Indonesia yang memang gemar film horor jadi faktor pendorong. Namun begitu, ada juga yang menyinggung soal unsur sejarah kolonialisasi Jepang di Korea yang turut memberi kedalaman cerita. Dari semua tanggapan itu, Ssun melihat sebuah benang merah.

"Nah ini adalah aspek-aspek yang ada, sebuah koneksi dari film Korea juga dan ada di film Indonesia juga," simpulnya. Intinya, ada kemiripan budaya dan selera yang akhirnya menyambungkan cerita di layar dengan penonton di sini.

Kesuksesan Exhuma sebenarnya bukan tanpa prestasi. Film yang tayang perdana di Korea pada Februari 2024 ini langsung meledak, ditonton oleh 12 juta orang di negara asalnya. Di panggung internasional, film ini juga menyabet Special Jury Award di Sitges Film Festival, Spanyol. Belum lagi empat piala di Baeksang Arts Awards, termasuk untuk Sutradara Terbaik dan Aktris Terbaik (Kim Go Eun).

Ceritanya sendiri memang menarik. Mengisahkan dua dukun muda yang direkrut keluarga kaya untuk menangkal teror arwah leluhur. Mereka lalu bekerja sama dengan seorang ahli bedah mayat untuk menggali sebuah makam di desa terpencil. Alur misterinya berhasil membuat penonton terpaku.

Lalu, Mengapa Pasar Indonesia Jadi Sasaran?

Dalam kesempatan yang sama, Ssun Kim juga membeberkan alasan strategis di balik fokus industri film Korea ke Indonesia. Pertama, soal angka. "Indonesia memiliki populasi yang sangat besar dan demografi muda. Anda tahu populasi Indonesia mencapai lebih dari 286 juta. Itu berarti ini adalah populasi terbesar keempat di dunia," paparnya.

Faktor kedua adalah konektivitas. Pertumbuhan pengguna internet di sini sangat pesat, mencapai sekitar 80,5% dari total populasi. "Berdasarkan populasi itu, lebih dari 80% penduduk bisa menggunakan internet. Itu angka yang sangat besar dibandingkan negara lain," imbuhnya.

Dari sisi ekonomi, Indonesia juga dilihat punya pertumbuhan yang cepat. Daya beli masyarakat dinilai semakin meningkat, yang artinya mereka lebih mampu untuk berlangganan layanan streaming atau membeli tiket bioskop.

Terakhir, dan ini mungkin yang paling krusial, adalah karakter audiensnya. "Banyak dari mereka mengonsumsi, membagikan, dan mendiskusikan konten media. Jadi ini adalah proporsi yang sangat, sangat aktif di pasar Indonesia," tutur Ssun.

Generasi muda Indonesia, terutama milenial dan Gen Z, punya peran besar. Mereka aktif berbagi dan mendiskusikan konten di media sosial. Bagi para pemasar, keterlibatan seperti ini tentu sangat berharga. Inilah yang membuat pasar Indonesia begitu menarik untuk disasar.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar