Kakaknya pun tak luput dari siksaan. Ia sering dipukuli dengan sapu dan tali pinggang hingga tubuhnya penuh memar. Semua itu disaksikan oleh AI, pelan-pun menumpuk luka di benaknya.
Puncaknya, sang ibu menghapus game online yang sangat disukai anak itu. Tindakan itu seperti menyulut bara yang sudah menumpuk. Rasa sakit hati dan amarah yang terpendam akhirnya meledak.
"Jadi, motivasinya bisa dirunut," jelas Simanjuntak, merangkum kesimpulan penyidik.
"Pertama, kekerasan yang dilihatnya setiap hari. Kedua, rasa iba menyaksikan kakaknya disiksa. Dan yang terakhir, sakit hati karena game kesayangannya dihapus. Kombinasi inilah yang mendorongnya melakukan kejahatan."
Kasus ini tentu menyisakan duka yang mendalam. Sekaligus menjadi peringatan keras tentang dampak ganda: konten kekerasan di gawai dan lingkungan rumah yang tidak memberi rasa aman.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen