"Rendahnya nilai TKA bahasa Inggris dan matematika, menurut saya perlu dilihat sebagai peringatan bahwa ada persoalan struktural dalam pembelajaran, bukan semata kelemahan siswa," ujar Hetifah kepada wartawan, Kamis lalu.
Menurutnya, akar masalahnya lebih kompleks. Ia menyoroti beberapa hal, mulai dari kualitas dan distribusi guru yang belum merata, metode mengajar yang dinilai kurang kontekstual, sampai minimnya kesempatan bagi siswa untuk menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.
"Ini berkaitan dengan kualitas dan pemerataan guru, metode ajar yang masih kurang kontekstual, serta minimnya paparan Bahasa Inggris dalam keseharian belajar," jelasnya.
Hetifah menambahkan, seharusnya TKA bisa berfungsi lebih dari sekadar alat ukur. "TKA diperlukan sebagai alat yang mampu memeriksa kebijakan untuk memperbaiki proses belajar, bukan sekadar instrumen evaluasi hasil belajar saja," pungkasnya. Intinya, hasil ini harus jadi bahan koreksi untuk sistem, bukan hanya untuk siswa.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen