Restorasi Tesso Nilo Dimulai, Sawit Tumbang dan Warga Serahkan Lahan

- Senin, 22 Desember 2025 | 20:20 WIB
Restorasi Tesso Nilo Dimulai, Sawit Tumbang dan Warga Serahkan Lahan

Babak baru restorasi Taman Nasional Tesso Nilo akhirnya dimulai. Di tengah hamparan lahan yang dulu hijau, kini terdengar suara mesin gergaji. Satu per satu, pohon sawit yang lama merambah kawasan konservasi itu pun tumbang.

Di sisi lain, ada langkah lain yang patut dicatat. Ratusan warga Desa Bagan Limau, Pelalawan, secara sukarela menyerahkan kembali lahan seluas 633 hektare yang mereka tempati kepada negara. Mereka kemudian direlokasi keluar dari kawasan taman nasional. Ini bukan keputusan mudah, tapi tampaknya sudah disepakati bersama.

Faktanya, tekanan terhadap Tesso Nilo memang luar biasa. Menurut data Satgas Penertiban Kawasan Hutan, kondisi hutannya sudah sangat memprihatinkan. Dari total kawasan konservasi seluas 81 ribu hektare, yang masih tersisa sebagai hutan mungkin cuma sekitar 16 ribu hektare saja. Sisanya? Sudah beralih fungsi, terutama jadi kebun sawit.

Maka, aksi penanaman pohon pada Sabtu lalu (20/12/2025) bukan sekadar seremoni. Itu adalah penanda dimulainya upaya nyata mengembalikan kehidupan ke Tesso Nilo. Upaya untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Acara itu dihadiri sejumlah pejabat. Mulai dari Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Wakil Menteri ATR Ossy Dermawan, hingga pimpinan daerah dan aparat keamanan setempat. Mereka bersama-sama menanam bibit sebagai simbol komitmen.

Mulai dari Menumbangkan Sawit

Sebelum menanam, ada proses 'pembersihan' dulu. Raja Juli secara simbolis menumbangkan sebatang pohon sawit. Langkah ini diikuti dengan penanaman bibit pohon asli, Kulim, sebagai bentuk restorasi ekosistem.

Dalam kesempatan itu, Menteri Raja Juli berusaha menjelaskan maksud di balik aksi penumbangan.

"Kalau secara simbolik ada pemusnahan sawit, bukan berarti ada permusuhan pada masyarakat," ujarnya.

"Tapi kita kembalikan Taman Nasional pada fungsinya sebagai kawasan konservasi."

Ia juga menyampaikan apresiasi yang mendalam pada warga Bagan Limau. Menurutnya, kesediaan masyarakat melepas lahan itu adalah bentuk rekonsiliasi yang brilian, sebuah solusi yang menguntungkan semua pihak.

"Apa yang terjadi hari ini bisa jadi teladan untuk daerah lain," tambah Raja Juli.

Pesan intinya tetap sama: ini bukan tentang konflik, melainkan tentang mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Tesso Nilo harus kembali menjadi hutan konservasi, sebagaimana mestinya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar