Budaya Toleransi di Sekolah Jadi Tameng Utama Hadapi Lonjakan Kasus Perundungan

- Rabu, 19 November 2025 | 19:10 WIB
Budaya Toleransi di Sekolah Jadi Tameng Utama Hadapi Lonjakan Kasus Perundungan
Berita Pendidikan - Pentingnya Budaya Toleransi untuk Cegah Perundungan di Sekolah

Bangun Budaya Toleransi di Sekolah, Kunci Cegah Perundungan

DATA MENCENGANGKAN: Kasus kekerasan di lingkungan sekolah melonjak lebih dari 100% dalam satu tahun terakhir, dari 285 kasus (2023) menjadi 573 kasus (2024).

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyerukan pembangunan sikap dan budaya toleransi di sekolah sebagai langkah strategis menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan dan kekerasan. Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan seluruh elemen pendidikan.

"Upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan tidak cukup hanya dengan sosialisasi antikekerasan. Yang lebih penting adalah membangun secara aktif sikap dan budaya saling toleransi antara seluruh pihak di sekolah dan masyarakat dalam interaksi keseharian," tegas Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/11).

Politisi nasional itu menyoroti maraknya pemberitaan media massa mengenai kasus perundungan di dunia pendidikan belakangan ini. Meski data resmi tahun ini belum dirilis, ia mendesak semua pihak untuk merespons tren ini dengan langkah-langkah nyata dan terukur.

Rerie menegaskan bahwa pendekatan preventif tidak boleh berhenti pada penyadaran masyarakat tentang bahaya perundungan. Setiap institusi pendidikan, ditegaskannya, harus mampu menciptakan ekosistem yang memupuk toleransi tinggi, sehingga budaya interaksi tanpa kekerasan dapat terwujud secara organik.

Dampak perundungan di lingkungan pendidikan, menurut Rerie, sangat serius dan multidimensi. Tidak hanya berpengaruh dalam jangka pendek, tindakan tersebut dapat berkontribusi pada memburuknya kesehatan mental peserta didik yang notabene merupakan generasi penerus bangsa.

Ia pun mendorong kolaborasi aktif antara pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya anti-perundungan. Hanya dengan sinergi yang solid, menurutnya, tercipta generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga sehat mental dan berdaya saing global.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar