Indonesia Pimpin Aliansi Global Selamatkan Lahan Gambut di KTT COP30

- Rabu, 19 November 2025 | 07:20 WIB
Indonesia Pimpin Aliansi Global Selamatkan Lahan Gambut di KTT COP30

Indonesia, Republik Kongo, dan Republik Demokratik Kongo mengukuhkan komitmen bersama melalui pernyataan bersama untuk mengoperasionalkan International Tropical Peatland Centre (ITPC). Dalam langkah strategis ini, ketiga negara tersebut menyerukan partisipasi global dalam pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional. "Kita akan mendorong semua negara yang memiliki potensi gambut untuk kemudian bersama-sama melakukan kolaborasi penanganan ini," ujarnya di Paviliun Indonesia pada COP30 Brasil, Selasa (18/11/2025).

Hanif menjelaskan bahwa penguatan ITPC dirancang untuk menjembatani sains, kebijakan, dan pembiayaan guna melestarikan karbon gambut sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ia menekankan bahwa pengelolaan gambut tropis merupakan sebuah amanah moral bagi generasi mendatang, di samping sebagai kepentingan ekologis.

"Gambut adalah gudang karbon alam yang sangat kuat – dan melindunginya bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga kewajiban moral yang menuntut tindakan segera, kebersamaan, dan pandangan jauh ke depan," tegasnya.

Sebagai pemilik salah satu ekosistem gambut tropis terluas di dunia, Indonesia menunjukkan progres nyata dalam upaya perlindungan. Langkah-langkah restorasi hidrologis, rehabilitasi, pembasahan kembali (rewetting), dan penanaman ulang (replanting) telah dilakukan secara masif.

Pemerintah Indonesia melaporkan capaian lapangan yang signifikan: lebih dari 4,15 juta hektar lahan gambut telah dipulihkan, didukung pembangunan 35.500 sekat kanal, dan pemasangan 10.100 titik pemantauan muka air tanah. Upaya ini diperkuat dengan program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG).

Dari pihak Republik Demokratik Kongo, Menteri Lingkungan Hidup, Pembangunan Berkelanjutan, dan Ekonomi Iklim Baru, Marie Nyange Ndambo, menyoroti peran krusial lahan gambut sebagai penyerap emisi karbon dalam skala besar.

"Negara-negara seperti kami, yang kaya akan sumber daya hutan dan memiliki lahan gambut yang luas, memiliki tanggung jawab untuk bersatu melindungi wilayah ini bagi rakyat kami dan bagi dunia," kata Marie.

"Itulah tujuan aliansi kami hari ini. Dan seperti yang telah kami katakan, kami akan menarik sebanyak mungkin negara untuk membentuk sebuah kekuatan," tutupnya menandaskan semangat kolaborasi global.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar