"Program MBG dirancang tanpa menu standar nasional yang kaku. Oleh karena itu, kehadiran individu yang memahami gizi di setiap SPPG menjadi penentu kualitas. Jika bukan sarjana gizi, kami dapat mempertimbangkan lulusan seperti sarjana kesehatan masyarakat atau teknologi pangan yang telah mendapatkan ilmu gizi dalam perkuliahannya," tambah Dadan.
Klariifikasi atas Pernyataan Viral dan Komitmen Kolaborasi
Pernyataan ini muncul menanggapi pernyataan viral yang menyebut bahwa program tidak membutuhkan ahli gizi dan mengusulkan relawan lulusan SMA. Terkait hal tersebut, pihak yang membuat pernyataan telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di depan forum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan menyatakan kesediaannya untuk berkolaborasi demi kesuksesan Program MBG.
Dadan Hindayana kembali menegaskan posisi BGN yang tidak berubah. Standar menu nasional yang ditetapkan memerlukan keahlian khusus untuk memastikan manfaat Program Makan Bergizi Gratis benar-benar dirasakan oleh penerima manfaat.
Artikel Terkait
Rem Blong, Trailer Angkut Ekskavator Picu Kecelakaan Beruntun di Jonggol
Tragedi Warakas: Tiga Jenazah Satu Keluarga Dimakamkan di Rorotan
Badik Berbicara di Makassar: Utang Satu Juta Rupiah Berujung Pembunuhan Kakak Beradik
Autopsi Selesai, Kematian Keluarga Warakas Masih Gelap