Soeharto Pahlawan Nasional? Kontroversi, Jasanya & Dosa Orde Baru

- Selasa, 11 November 2025 | 09:50 WIB
Soeharto Pahlawan Nasional? Kontroversi, Jasanya & Dosa Orde Baru
Soeharto Sebagai Cermin Bangsa: Gelar Pahlawan dan Kontroversi Sejarah

Soeharto Sebagai Cermin: Gelar Pahlawan dan Pertanyaan Nasional

Oleh: Radhar Tribaskoro

Sebuah bangsa seringkali diuji bukan melalui perang atau pemilu, melainkan melalui cara mereka menghormati sejarah. Ketika nama Soeharto kembali diusulkan sebagai pahlawan nasional, Indonesia sebenarnya sedang bertanya pada dirinya sendiri: nilai apa yang ingin kita wariskan kepada generasi mendatang tentang kekuasaan, kebenaran, dan memori kolektif?

Makna Pahlawan dalam Lintasan Sejarah Dunia

Setiap negara memiliki cara tersendiri dalam memaknai kepahlawanan. Amerika Serikat menghormati Martin Luther King Jr sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Prancis memuliakan Émile Zola di Panthéon sebagai pembela kebenaran. Dalam konteks ini, pahlawan bukan sekadar figur berjasa, melainkan representasi nilai-nilai yang ingin dilestarikan sebagai pelajaran bagi masa depan.

Namun sejarah juga mencatat bahwa tidak semua tokoh besar diangkat menjadi pahlawan. Winston Churchill, meski berjaya memimpin Inggris dalam Perang Dunia, tidak dianggap sebagai pahlawan moral akibat kebijakannya yang menyebabkan bencana kelaparan di India. Napoleon Bonaparte diakui sebagai tokoh sejarah penting Prancis, namun tidak dijadikan teladan kebajikan nasional.

Dua Wajah Kepemimpinan Soeharto

Era kepemimpinan Soeharto menyimpan dua narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, Indonesia mengalami stabilitas ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan penurunan inflasi yang signifikan. Banyak generasi Orde Baru yang mengenang masa ini sebagai periode keterjangkauan harga pokok dan arah pembangunan yang jelas.

Di sisi lain, sejarah mencatat berbagai peristiwa kelam: pembantaian pasca 1965 yang belum tuntas, penculikan aktivis, pemberangusan media, serta korupsi yang terstruktur. Warisan ini menciptakan Indonesia yang makmur bagi segelintir orang, namun rapuh bagi banyak kalangan.

Filosofi Jawa dalam Ranah Negara

Konsep "mikul duwur mendem jero" yang berarti mengangkat tinggi jasa dan mengubur dalam kesalahan, mungkin relevan dalam konteks keluarga. Namun ketika prinsip ini diterapkan dalam pengelolaan negara, konsekuensinya menjadi berbeda. Negara yang sehat justru perlu mengakui kesalahan masa lalu agar generasi berikutnya tidak mengulanginya.

Seperti dikemukakan pemikir Milan Kundera, perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Tanpa ingatan yang jujur, sebuah bangsa berisiko terjebak dalam siklus sejarah yang berulang.

Pelajaran dari Berbagai Negara

Beberapa negara memberikan contoh bagaimana menghadapi sejarah kelam dengan bijak. Rusia mengakui jasa Lenin dan Stalin tanpa menutupi kejahatan regime mereka. Museum Gulag tetap berdiri sebagai pengingat akan kekejaman masa lalu.

Jerman mengambil pendekatan lebih radikal dengan tidak menghapus Hitler dari sejarah, justru menelanjangi seluruh dosa ideologi Nazi. Siswa-siswa diajak mengunjungi bekas kamp konsentrasi untuk memahami bagaimana peradaban bisa runtuh ketika kekuasaan tidak dikontrol.

Masa Depan Sejarah Indonesia

Usulan penganugerahan gelar pahlawan untuk Soeharto tanpa proses rekonsiliasi sejarah yang komprehensif berisiko dianggap sebagai penutupan narasi, bukan perayaan prestasi. Tindakan ini dapat mengirim pesan bahwa kekuasaan berhak atas pengampunan otomatis, dan bahwa kesuksesan politik dapat menghapus tanggung jawab moral.

Sejarah yang sehat bukanlah sejarah yang bersih dari noda, melainkan sejarah yang jujur mengakui keberhasilan dan kegagalan. Bangsa yang matang berani mengakui: ada yang telah dibangun, ada pula yang dirusak. Kedua hal ini harus diingat bersama.

Soeharto tetap menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Namun kebesaran historis tidak selalu identik dengan kepahlawanan. Kita bisa mengakui jasa-jasanya tanpa menutupi luka yang terjadi di masa kepemimpinannya.

Masa depan bangsa tidak dibangun hanya dari kebanggaan semata, melainkan dari keberanian melihat cermin sejarah secara jujur - bahkan ketika bayangan yang terpantul tidak selalu membanggakan.

Cimahi, 11 September 2025

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar