Usman Hamid Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional: Dampak dan Kontroversi

- Minggu, 09 November 2025 | 00:20 WIB
Usman Hamid Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional: Dampak dan Kontroversi
Usman Hamid Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional - Analisis Kontroversi

Usman Hamid Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Sebut Bisa Kaburkan Sejarah

Pengurus Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, Usman Hamid, menyoroti wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto. Menurutnya, gelar kepahlawanan seharusnya menjadi cahaya keteladanan di tengah kegelapan.

Namun, Usman justru menyatakan bahwa nama Soeharto membawanya kembali ke dalam kegelapan. Aktivis HAM ini secara tegas menolak wacana pemerintah untuk menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.

Dampak Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional

Usman memperingatkan bahwa sejarah bisa terputar balik jika Soeharto diangkat sebagai pahlawan. Menurutnya, tokoh reformasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan Cak Nur justru bisa dianggap penjahat karena peran mereka dalam menurunkan Soeharto dari kursi kepresidenan.

Ia mengingatkan peristiwa reformasi 1998 ketika Cak Nur menyampaikan langsung tuntutan mahasiswa kepada Soeharto untuk turun dari jabatannya. Menurut Usman, menyamakan Soeharto dengan Gus Dur sebagai pahlawan merupakan langkah yang menyesatkan moral publik.

Krisis Kompas Moral Bangsa Indonesia

Usman menyatakan kekhawatirannya bahwa Indonesia semakin kehilangan kompas moral. Batas antara benar dan salah, etis dan tidak etis, serta pahlawan dan pengkhianat semakin kabur.

Ia juga mengungkapkan keresahan generasi muda, khususnya Gen Z, yang kesulitan menemukan figur teladan dalam kehidupan sosial-politik. Akibatnya, mereka beralih kepada karakter fiksi seperti pahlawan dalam One Piece yang berani melawan ketidakadilan.

Usman menegaskan bahwa bangsa ini membutuhkan kejelasan moral dalam menilai sejarah dan kepahlawanan. Penetapan pahlawan harus didasarkan pada kontribusi nyata bagi bangsa tanpa mengaburkan fakta sejarah yang terjadi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar