Kandar menyambut baik janji pemerintah tersebut. Sebagai nelayan, ia dan masyarakat setempat sangat membutuhkan listrik untuk mengoperasikan mesin pendingin guna menyimpan hasil tangkapan ikan. Pemenuhan listrik dinilai akan langsung berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
Dampak Luas Kelangkaan Listrik: Pendidikan dan Kesehatan
Kandar juga menjelaskan bahwa dampak keterbatasan listrik jauh lebih luas, tidak hanya pada sektor ekonomi. Sektor pendidikan dan kesehatan juga turut terkena imbas.
Ia menceritakan bagaimana para siswa di desanya mengalami kesulitan untuk mengikuti pembelajaran daring karena jaringan internet hanya aktif ketika listrik menyala pada sore hari. Bahkan, untuk melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), sekolah terpaksa memindahkan lokasi ujian ke pulau seberang, Nitu, yang sudah memiliki jaringan 4G.
Harapan Warga untuk Listrik 24 Jam
Harapan Kandar dan warga Sulut lainnya sederhana namun krusial: mereka berharap janji pemerintah untuk memenuhi pasokan listrik dapat terealisasi tepat waktu. Mereka mendambakan listrik yang menyala 24 jam penuh, bukan hanya empat jam seperti kondisi saat ini.
Dengan pasokan listrik yang stabil, warga yakin dapat menemukan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, baik melalui pengelolaan hasil perikanan yang lebih baik maupun melalui akses pendidikan yang lebih lancar untuk anak-anak mereka.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral