Anggaran Pendidikan Minim, Indonesia Emas 2045 Terancam

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:06 WIB
Anggaran Pendidikan Minim, Indonesia Emas 2045 Terancam

Pendidikan adalah tiket utama menuju Indonesia Emas 2045, namun ironisnya, Indonesia termasuk negara dengan alokasi anggaran pendidikan terendah. Padahal amanat konstitusi jelas: 20 persen APBN dan APBD untuk pendidikan. Di lapangan, 20 persen itu banyak terserap untuk gaji dan belanja rutin, sementara untuk riset, laboratorium, dan peningkatan kualitas guru, jatahnya sangat minim. Bagaimana mungkin kita bermimpi bersaing di 2045 jika mesin utamanya diberi bensin eceran?

Dampaknya langsung terasa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2026, pengangguran mencapai 7,2 juta orang, dan hampir separuhnya adalah lulusan SMA dan SMK. Angka kemiskinan masih 8,25 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita pada 2025 baru 0,748, jauh di bawah Singapura dan Malaysia. Survei PISA 2025 juga menunjukkan anak Indonesia tertinggal hampir tiga tahun pembelajaran dari rata-rata negara maju. Prof. Arief Rachman mengingatkan, "Krisis pendidikan bukan karena anaknya bodoh, tapi karena sistemnya tidak memberi mereka kesempatan untuk cerdas." Jika pola ini diteruskan, Visi Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai.

MBG: Langkah Besar yang Perlu Dievaluasi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah langkah penting untuk menurunkan stunting dan meningkatkan konsentrasi belajar. Pada 2026, pemerintah mengalokasikan Rp 268 triliun untuk program ini. Ini dana besar, tapi evaluasi menunjukkan tata kelola MBG 2025 masih menghadapi tantangan: data penerima tumpang tindih, pengawasan mutu gizi belum merata. Ke depan, MBG harus diperbaiki menjadi lebih tepat sasaran dan transparan. Fokuskan hanya untuk anak dari keluarga miskin dan rentan. Bangun sistem data terintegrasi dan dashboard publik agar setiap rupiah bisa dilacak. Libatkan ahli gizi dan UMKM lokal. Prof. Satryo Soemantri menegaskan, "Investasi pendidikan tidak boleh dikorbankan untuk program konsumtif yang tidak tepat sasaran. Jika tidak, kita menggadaikan masa depan demi kebutuhan hari ini." Jika MBG dikelola tepat, hematannya bisa dipakai untuk membangun lab, buku, dan menaikkan gaji guru honorer.

Krisis Karakter dan Digital

Masalahnya tidak berhenti di anggaran. Krisis karakter dan digital juga mengancam. KPK mencatat mayoritas pelaku korupsi berpendidikan tinggi. Yang lebih memprihatinkan adalah ledakan judi online. Data PPATK Maret 2026 mencatat ada lebih dari 500 ribu anak di bawah usia 10 tahun yang teridentifikasi sebagai pemain judol. Indonesia kini disebut sebagai "sarang judol" terbesar di Asia Tenggara. Ini sinyal keras: IQ boleh tinggi, tapi EQ dan SQ rendah. Dunia butuh manusia yang cerdas sekaligus berakhlak. Karena itu penguatan pendidikan karakter harus jadi prioritas. Sekolah Laboratorium Pancasila di DKI Jakarta dan Seluma, Bengkulu, menjadi contoh baik. Sekolah ini mengintegrasikan nilai Pancasila dan gotong royong ke dalam kegiatan belajar. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, "Pendidikan adalah usaha menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya."

Empat Pilar Visi 2045

Visi Indonesia Emas 2045 memiliki empat pilar, dan semuanya berujung pada pendidikan. Pilar pertama menargetkan manusia sehat dan cerdas. Pilar kedua menargetkan ekonomi berbasis inovasi. Tapi riset Indonesia masih jauh di bawah Korea Selatan. Yang lebih memprihatinkan, proyeksi IMF 2026 menunjukkan pertumbuhan ekonomi kita hanya 5,0 persen, sementara Vietnam 6,5 persen. Padahal 15 tahun lalu PDB kita tiga kali lipat Vietnam. Prof. Rhenald Kasali menegaskan, "Negara ini akan maju jika pejabatnya punya mindset bahwa anggaran pendidikan adalah investasi, bukan beban."

Kita tidak boleh pesimis. Ada contoh baik: SMK di Batam yang bekerja sama dengan industri mampu menyerap hampir semua lulusannya. Ada program KIP Kuliah yang menjangkau jutaan mahasiswa. Ada guru-guru di pelosok yang rela jalan kaki demi mengajar. Nelson Mandela pernah berkata, "Pendidikan adalah senjata paling kuat untuk mengubah dunia."

Tiga Langkah yang Perlu Diambil

Saatnya pemerintah berani melakukan tiga hal. Pertama, perbaiki tata kelola MBG Rp 268 triliun agar tepat sasaran. Hematannya alihkan untuk infrastruktur sekolah dan mutu guru. Kedua, wajibkan 20 persen anggaran pendidikan benar-benar untuk peningkatan mutu, bukan hanya gaji. Ketiga, perluas pendidikan karakter dan literasi digital di setiap jenjang. Jadikan Pancasila bukan hafalan, tapi perilaku.

Karena nasib 79 juta anak Indonesia hari ini menentukan nasib 280 juta rakyat pada 2045. Jika hari ini kita berani berkorban untuk pendidikan, maka 20 tahun lagi kita akan menuai Indonesia yang merdeka, maju, dan berkeadilan. Jika tidak, maka Indonesia Emas 2045 hanya akan jadi slogan di atas kertas.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags