Houla, sebuah desa kuno di Lebanon selatan yang telah berdiri selama 2.000 tahun, kini praktis lenyap dari peta. Citra satelit dan investigasi media mengonfirmasi bahwa desa tersebut diratakan secara sistematis melalui ledakan terkontrol dan serangan udara yang meluas. Dari sekitar 12.000 penduduk, hanya sekitar 800 orang yang dapat kembali karena sebagian besar rumah dan bangunan sipil hancur total.
Penghancuran ini tidak hanya menyasar infrastruktur sipil, tetapi juga monumen bersejarah. Pasukan Israel menghancurkan tugu peringatan yang dibangun untuk mengenang korban pembantaian Hula tahun 1948. Houla, yang terletak di sisi selatan Sungai Litani dekat perbatasan, memiliki akar sejarah yang dalam hingga era Kanaan-Fenisia dan Kerajaan Tirus. Temuan arkeologis seperti ambang pintu kuno dan alat penggiling zaitun menunjukkan warisan ribuan tahun yang kini musnah.
Skala kehancuran ini merupakan bagian dari pola yang lebih luas di Lebanon selatan. Menurut laporan Al Jazeera dan Kementerian Kebudayaan Lebanon, serangan militer Israel juga merusak parah kota Tirus yang terdaftar di UNESCO, pasar bersejarah era Mamluk di Nabatieh, dan Kastil Beaufort abad pertengahan. Para ahli hukum internasional dan kelompok kemanusiaan memperingatkan bahwa penghancuran kota-kota berusia berabad-abad ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan penghapusan identitas fisik suatu komunitas.
Pemerintah Lebanon, seperti halnya Otoritas Palestina, dinilai hanya mengeluarkan retorika tanpa tindakan nyata untuk melawan agresi. Sementara itu, genosida dan pembersihan etnis yang terjadi di Lebanon disebut sebagai "Gaza kedua" yang belum banyak mendapat perhatian dunia.
Artikel Terkait
Lebanon Rugi Rp72 Triliun Akibat Serangan Israel Sejak Awal Maret
Perang Israel di Lebanon Timbulkan Kerugian Material hingga Rp64 Triliun
Korban Tewas di Lebanon Akibat Serangan Israel Tembus 4.304 Jiwa
Korban Tewas di Lebanon Tembus 4.304 Orang, Israel Bersikukuh Tak Tarik Pasukan