Rachmat Gobel Tutup Usia, Pengusaha dan Politisi yang Mengusung Filosofi Pohon Pisang

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:12 WIB
Rachmat Gobel Tutup Usia, Pengusaha dan Politisi yang Mengusung Filosofi Pohon Pisang

Kabar duka menyelimuti dunia usaha dan politik nasional. Rachmat Gobel, pengusaha sekaligus politisi yang pernah menjabat Menteri Perdagangan, meninggal dunia pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB di usia 63 tahun. Kabar tersebut pertama kali disampaikan oleh wartawan senior Nasihin Masha melalui grup WhatsApp Komengsong pada pukul 04.32. "Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun. Telah meninggal Bapak Rachmat Gobel pada Jumat, 10 Juli 2026, pada pukul 03.20 WIB. Info selanjutnya menyusul," tulisnya.

Kepergian Rachmat mengejutkan banyak pihak. Sehari sebelumnya, ia masih terlihat sehat dan mengikuti rapat di Fraksi Partai NasDem. Bendahara Umum DPP Partai NasDem, Ahmad Sahroni, mengungkapkan bahwa Rachmat meninggal karena serangan jantung. Tidak ada kabar sebelumnya bahwa ia sakit atau dirawat.

Rachmat dikenal sebagai sosok yang idealis dan berintegritas tinggi. Ia dipercaya menjadi Menteri Perdagangan pada era Presiden Joko Widodo, namun hanya menjabat sekitar setahun sebelum di-reshuffle pada Agustus 2015. Penggantinya, Thomas Lembong, juga hanya bertahan hingga Juli 2016.

Jenazah Rachmat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, seusai salat Jumat. Sejumlah tokoh nasional hadir, antara lain Wakil Presiden Ke-10 Jusuf Kalla, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, dan anggota DPR. Mantan Presiden Joko Widodo, Surya Paloh, serta sejumlah pesohor juga melayat ke rumah duka.

Didikan Keras Sang Ayah

Rachmat lahir dari keluarga terpandang pada 3 September 1962 di Jakarta. Ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, adalah pelopor industri elektronika di Indonesia. Meski berasal dari keluarga berada, Rachmat tidak hidup bermewah. Semasa SMP, ia bekerja di pabrik PT National Gobel milik ayahnya setiap libur sekolah. "Saya mengepel, menyapu, membersihkan toilet, dan juga ikut kerja pabrik, sama seperti karyawan lainnya. Datang dan pergi harus mengisi absen," kata Rachmat, seperti dikutip dalam buku "Rachmat Gobel Membangun Kemakmuran".

Setelah lulus SMA, Rachmat melanjutkan pendidikan ke Jepang dan bekerja sebagai buruh di Panasonic. Ia tidak mendapat perlakuan istimewa. "Saya tidak diperlakukan sebagai mitra, tapi sebagai karyawan pada umumnya," ujarnya.

Saat ayahnya sakit-sakitan, Rachmat dipanggil dan diajak bicara secara khusus. "Ayah minta maaf atas caranya mendidik saya yang sangat keras. Saya memeluknya dan menangis. Semua rasa pedih hilang. Semua yang ayah lakukan ada maksudnya," kenang Rachmat. "Saya dididik ayah untuk membunuh ego saya."

Thayeb Mohammad Gobel wafat pada 21 Juli 1984. Semasa hidup, ia dikenal sebagai pelopor industri elektronik. Pada 1950, perusahaannya memproduksi radio transistor pertama buatan Indonesia, bermerek Tjawang. Radio ini mampu menangkap gelombang short wave dan menerima siaran RRI dari Jakarta ke seluruh pelosok Indonesia. Semangat kebangsaan yang kuat mendorong produksi radio ini, bukan sekadar hiburan.

Setelah ayahnya wafat, Rachmat dipercaya memimpin PT National Gobel di usia 22 tahun. Perusahaan terus berkembang, merambah berbagai sektor seperti elektronik, alat rumah tangga, kimia, properti, transportasi, dan logistik. Kini, PT Panasonic Gobel Indonesia dikenal sebagai Gobel Group.

Darah politik ayahnya juga mengalir deras pada Rachmat. Thayeb Gobel merupakan deklarator Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari unsur Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada 1973 dan menjabat Wakil Ketua Umum PPP.

Filosofi Pohon Pisang

Rachmat dikenal luas, mudah bergaul, dan bersahaja. Ia mempertahankan ruang kerja ayahnya di kantor pusat Panasonic Gobel di Cawang, Jakarta Timur, yang dibangun sekitar 1954. Ruangan itu tetap asli, termasuk posisi kursi dan meja. "Ini ruangan ayah saya, sejak dulu tidak berubah, bahkan posisi kursi dan meja tetap seperti dulu. Saya mempertahankan keasliannya sebagai kenangan dan juga spirit," ujar Rachmat.

Filosofi Pohon Pisang yang dipopulerkan Thayeb Mohammad Gobel menjadi pegangan hidup Rachmat. Filosofi ini bermakna memberi manfaat bagi manusia, regenerasi, dan kebersamaan. Daun pisang yang lebar melindungi anak-anaknya yang tumbuh. Pohon pisang tidak akan mati sebelum anak-anaknya tumbuh di sekitarnya.

Filosofi ini diwariskan kepada kedua anaknya, Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Gobel. Saat masih SMA, Arif sudah belajar bekerja di pabrik tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ia mendaftar pelatihan magang, tidur di asrama karyawan, dan bekerja di pabrik saat liburan. "Saya menjadi sales, menjadi bagian marketing. Saya masih belajar jualan keliling Indonesia," kata Arif.

Filosofi mengayomi juga mendorong Yayasan Matsushita Gobel (YMG) yang dipimpin Rachmat bekerja sama dengan Harvard Law School (HLS) untuk studi dan penelitian reformasi hukum di Asia Tenggara dan Indonesia. Perjanjian kerja sama ditandatangani pada 22 Oktober 2012 di Cambridge, Massachusetts. Yayasan memberikan dana penelitian selama lima tahun, termasuk beasiswa bagi mahasiswa Harvard yang melakukan penelitian.

Kerja sama ini menunjukkan kepedulian Rachmat terhadap reformasi hukum di Indonesia. Ia melihat hukum yang seharusnya menjamin keadilan, justru kerap menjadi alat pemukul bagi lawan politik, orang miskin, dan terpinggirkan. Rakyat kehilangan tempat bersandar untuk keadilan.

Rachmat pergi sebelum menyaksikan hukum tegak sempurna untuk semua orang di Indonesia. Selamat jalan, sahabat. Kami mencatat dan meneladani ketokohan, idealisme, dan filosofi Pak Rachmat menyebarkan sebanyaknya kebaikan, memberi manfaat bagi banyak orang. Pergilah dengan amal jariyah yang terus mengalir selamanya. Temuilah Yang Maha Pencipta, Yang Maha Adil.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags