Kebakaran TPA Jatiwaringin Masih Berkobar, Pemulung Kehilangan Penghasilan

- Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:48 WIB
Kebakaran TPA Jatiwaringin Masih Berkobar, Pemulung Kehilangan Penghasilan

Asap tebal masih menyelimuti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, hingga Kamis (2/7). Kebakaran yang telah berlangsung tiga hari itu tak hanya menyulitkan petugas pemadam, tetapi juga memutus sumber penghasilan para pemulung yang menggantungkan hidup dari sampah.

Enjah (60), seorang pemulung warga Kampung Pulo Pelawan, setiap pagi biasa berangkat ke TPA bersama anaknya untuk mencari barang bekas. Hasilnya, sekitar Rp100 ribu per hari, digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan merawat suaminya yang sakit. Namun sejak api muncul pada Selasa (30/6), ia tak bisa lagi bekerja. Area kebakaran tak bisa diakses, sementara asap pekat membuat matanya perih. "Sudah beberapa hari tidak bisa mencari maupun menjual rongsokan," ujarnya dengan suara bergetar, sebelum akhirnya menangis. Bagi Enjah, yang terpenting bukan hanya api segera padam, tetapi ia bisa kembali bekerja menghidupi keluarganya.

Warga sekitar pun merasakan dampaknya. Duda (49), yang tinggal sekitar satu kilometer dari TPA, mengatakan kepulan asap terlihat jelas dari rumahnya. "Asap gede, dari rumah saya kelihatan tebal banget," katanya. Ketika angin bertiup ke permukiman, asap masuk ke rumah-rumah dan membuat warga, terutama anak-anak, merasa sesak. Misar (62), pemulung lain yang tinggal 500 meter dari TPA, terpaksa menghentikan aktivitasnya karena truk sampah tak lagi diizinkan masuk. Ia juga khawatir tanah di area TPA amblas akibat kebakaran.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan kualitas udara di sekitar TPA berada pada kategori sangat tidak sehat. Masyarakat diminta menghindari area kebakaran dan menggunakan masker.

Pemadaman Terkendala Angin

Api sulit dipadamkan meski petugas pemadam kebakaran hingga BNPB telah dikerahkan, termasuk helikopter water bombing. Kebakaran di TPA seluas 31 hektare itu diduga dipicu cuaca panas. Pemadaman dari darat dan udara terkendala embusan angin yang memperluas area kebakaran. KLH menerjunkan puluhan personel untuk menangani api yang masih membara di bawah timbunan sampah. BNPB menyiapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC), tetapi belum bisa diterapkan karena tak ada awan yang memenuhi syarat.

Pemerintah Kabupaten Tangerang telah meminta bantuan armada damkar dari Kota Tangerang untuk menjangkau lebih banyak titik dan mengantisipasi api merambat ke timbunan yang belum terbakar. Gubernur Banten Andra Soni meminta semua bupati dan wali kota waspada terhadap potensi kebakaran TPA di wilayah masing-masing, terutama di tengah cuaca panas yang meningkatkan risiko.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags