Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Capai 188 Orang, 200 Masih Terjebak Reruntuhan

- Jumat, 26 Juni 2026 | 03:36 WIB
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Capai 188 Orang, 200 Masih Terjebak Reruntuhan

Korban jiwa akibat gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Dua gempa besar yang terjadi secara beruntun pada Rabu malam (24/6) telah menewaskan sedikitnya 188 orang, sementara lebih dari 1.500 lainnya luka-luka dan sekitar 200 orang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat seiring proses evakuasi yang masih berlangsung.

Gempa pertama berkekuatan 7,2 magnitudo mengguncang wilayah sekitar 160 kilometer di barat Caracas. Kurang dari satu menit kemudian, gempa susulan dengan kekuatan 7,5 magnitudo kembali menerjang kawasan yang sama, menurut catatan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Lembaga itu memperkirakan potensi korban jiwa bisa mencapai angka yang jauh lebih besar, bahkan hingga lebih dari 10.000 orang, berdasarkan pemodelan awal yang mereka lakukan.

Hingga Kamis siang waktu setempat, pemerintah Venezuela mencatat 1.520 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 250 bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga ambruk total. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan bahwa wilayah La Guaira yang berada di dekat Caracas menjadi daerah dengan dampak paling parah. "La Guaira telah menjadi zona bencana," kata Rodriguez. Pemerintah, lanjut dia, telah mengerahkan alat berat bersama sejumlah perusahaan untuk mempercepat proses pencarian dan penyelamatan korban.

Di sejumlah wilayah terdampak, tim penyelamat bekerja sepanjang malam menyisir puing-puing bangunan. Namun di beberapa lokasi lain, warga mengaku bantuan masih sangat minim. Yamileth Jimenez, seorang warga La Guaira, mengatakan putranya yang berusia 19 tahun diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan apartemen tujuh lantai tempat mereka tinggal. "Anak saya masih berada di bawah reruntuhan dan belum ada alat berat untuk mengeluarkannya," ujar Jimenez. Ia mengaku musibah tersebut datang hanya beberapa hari setelah ayahnya meninggal dunia.

Warga lainnya, Pedro Perez (64), mengatakan rumah sekaligus tempat usahanya hancur akibat gempa. Ia kini terpaksa bertahan di jalan bersama istri dan anak-anaknya. "Kami kehilangan semuanya. Tidak ada makanan maupun obat-obatan. Kami hanya berharap bantuan segera datang," katanya. Situasi kian rumit dengan munculnya laporan aksi penjarahan di dua toko di La Guaira saat warga berusaha mencari makanan dan air bersih. Bandara utama Caracas yang berada di wilayah tersebut juga terpaksa ditutup setelah mengalami kerusakan.

Kepanikan juga melanda Caracas. Saat gempa terjadi, banyak warga masih berada di rumah karena Venezuela sedang memperingati hari libur nasional. Getaran kuat membuat warga berhamburan keluar rumah dan gedung-gedung bertingkat. "Begitu kami berhasil turun, pemandangannya seperti film horor. Kami harus melewati puing-puing bangunan. Dari gedung sebelah, saya hanya melihat satu keluarga yang berhasil keluar," kata warga Caracas, Maria Alejandra. Di Caracas bagian selatan, seorang pensiunan berusia 80 tahun, Maria Romero, mengatakan polisi membantu mengevakuasinya dari apartemen. "Gempa ini mengerikan, bahkan lebih buruk daripada gempa tahun 1967," ujarnya.

Di kota MorĂ³n, yang berada dekat pusat gempa di negara bagian Carabobo, sejumlah rumah juga dilaporkan roboh. Wali Kota Emily Riera mengatakan sedikitnya delapan orang meninggal dunia di wilayah tersebut, termasuk tiga anak. Selain korban jiwa, pasokan listrik dan air bersih di sejumlah kawasan masih terputus.

Sementara itu, sebuah situs pelacakan korban hilang yang dibagikan kelompok oposisi Venezuela mencatat lebih dari 35 ribu laporan orang hilang hingga Kamis siang waktu setempat. Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. USGS mencatat gempa berkekuatan 7,5 magnitudo ini menjadi yang terkuat di Venezuela sejak 1900. Venezuela memang berada di kawasan pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang aktif secara tektonik. Salah satu gempa paling mematikan di negara itu terjadi pada 1812 dan menewaskan sekitar 30 ribu orang.

Bantuan internasional mulai berdatangan. Sejumlah negara menyampaikan belasungkawa dan menawarkan bantuan kepada Venezuela. Presiden sementara Delcy Rodriguez mengatakan tim penyelamat dari berbagai negara dijadwalkan segera tiba untuk membantu proses evakuasi. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, atas dukungan yang diberikan. Di berbagai negara, komunitas diaspora Venezuela mulai menggalang bantuan kemanusiaan, sementara keluarga korban berupaya mencari kabar kerabat mereka yang masih belum diketahui keberadaannya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.