BGN Instruksikan Prioritas Produk Lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis

- Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:00 WIB
BGN Instruksikan Prioritas Produk Lokal untuk Program Makan Bergizi Gratis

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari peternak dan pelaku usaha lokal dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil agar program tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu mendorong perekonomian daerah.

“SPPG diminta mengutamakan produk dan produksi lokal, termasuk untuk kebutuhan telur dalam Program MBG,” ujar Dadan, Sabtu (16/5/2026). Ia menegaskan, meskipun mitra pelaksana MBG memiliki koperasi atau jaringan pemasok sendiri, penyerapan hasil produksi peternak lokal tetap harus menjadi prioritas di masing-masing wilayah.

Kebijakan tersebut, menurut Dadan, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta kebutuhan telur untuk Program MBG berasal dari produksi dalam negeri. “Sesuai keinginan Presiden, telur untuk Program MBG terutama wajib menggunakan produksi lokal,” katanya. Presiden juga mendorong agar telur lebih sering digunakan sebagai sumber protein dalam menu MBG.

Sementara itu, BGN tidak menetapkan menu makanan secara nasional. Pemerintah hanya menentukan standar komposisi gizi yang harus dipenuhi oleh setiap penyelenggara program. Untuk memastikan kualitas makanan tetap sesuai standar, BGN menempatkan ahli gizi di setiap SPPG. Tenaga ahli tersebut bertugas menyusun menu berdasarkan potensi pangan lokal sekaligus menyesuaikan dengan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.

“BGN tidak menetapkan menu nasional, tapi membuat standar komposisi gizi. Oleh sebab itu, menempatkan pengawas gizi di setiap SPPG agar bisa membuat menu berbasis potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat lokal,” ucap Dadan.

Di sisi lain, penggunaan produk lokal dalam Program MBG diharapkan tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga hasil peternakan di tingkat produsen. Dadan menilai produksi telur nasional saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan program apabila distribusi dan penyerapan dilakukan secara optimal. Karena itu, ia meminta seluruh pelaksana MBG memperkuat kemitraan dengan peternak lokal di daerah masing-masing.

“Selama produksi lokal tersedia dan kualitasnya baik, maka itu yang harus diprioritaskan. Program MBG memang dirancang agar mampu mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar