Kabupaten Pinrang kembali bergerak. Kali ini, untuk melawan hama penggerek batang padi yang mengancam sawah-sawah. Gerakan pengendalian massal digelar Jumat lalu di Kecamatan Mattiro Sompe, sebuah upaya nyata menekan serangan yang bisa bikin produksi anjlok.
Hama ini memang jadi momok. Terutama saat padi masih dalam fase vegetatif, serangannya bisa menghancurkan. Beberapa waktu lalu, laporan serangan sudah berdatangan dari beberapa titik di Pinrang.
Amrullah, Koordinator Penyuluh setempat, punya data yang cukup mengkhawatirkan. "Pada Maret lalu, serangan PBP mencapai 309 hektare," ungkapnya.
Berbagai cara sudah ditempuh, katanya, mulai dari upaya mandiri petani sampai tindakan terpadu dengan instansi.
"Kami sudah lakukan gerdal di awal April bersama kelompok tani, contohnya di Desa Mattunru Tunru," jelas Amrullah.
Gerakan di Mattiro Sompe kali ini fokus di dua titik. Ada lahan Kelompok Tani Samaturue I di Desa Samaenre, dan juga milik Kelompok Tani Polewali I di Mattongang Tongang. Kegiatannya ramai. Nggak cuma petani, tapi juga hadir perwakilan dari Direktorat Perlindungan, BPTPH Sulsel, Dinas Pertanian Pinrang, plus para petugas POPT dan PPL di lapangan.
Untuk membasmi hama, mereka menggunakan pestisida dengan bahan aktif dimehypo.
Di sisi lain, Suardi, Kabid Hortikultura setempat, menyebut pihaknya sudah membentuk Tim Buser. Unit reaksi cepat ini siap turun kalau ada laporan serangan dari sawah.
"Kami kolaborasi dengan IP3OPT Pinrang. Kalau butuh bantuan di lapangan, kami siap," kata Suardi.
Pernyataan senada datang dari Suparman Arruan, Koordinator IP3OPT wilayah Pinrang. Ia menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah untuk upaya pengendalian ini.
"Pengendalian oleh POPT juga akan dibantu Tim Buser jika serangannya luas," ujar Suparman.
Cerita dari lapangan datang dari Muhamad Farid, Ketua Kelompok Tani Samaturue I. Ia mengaku tanamannya sempat kena imbas. Pengawasan yang agak longgar selama Ramadan jadi salah satu penyebabnya.
Tapi situasinya sudah membaik.
"Alhamdulillah, tanaman kami yang umurnya sekitar 60 hari itu sudah pulih. Kami juga terus pantau rutin seperti arahan POPT," jelas Farid.
Dari tingkat pusat, komitmen juga ditegaskan. Rahmat, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, menyebut pihaknya terus perkuat strategi. Mulai dari gerdal massal, penguatan petugas, sampai penyediaan sarana.
"Kami dorong pengendalian dilakukan terpadu dan berkelanjutan, libatkan semua pihak. Ini penting untuk jaga produksi padi nasional tetap stabil," tegas Rahmat.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti hal yang lebih mendasar. Baginya, upaya swasembada pangan bukan cuma soal angka produksi.
"Perlindungan petani adalah fondasinya. Negara harus hadir agar petani punya kepastian, tidak menanggung risiko sendirian. Baru mereka bisa terus menanam," tegas Mentan.
Pada akhirnya, gerakan seperti ini bukan sekadar urusan menyemprot hama. Ini langkah krusial untuk menjaga napas panjang produksi padi di Pinrang. Dengan pengendalian yang tepat dan konsisten, harapannya produktivitas terjaga. Ketahanan pangan pun punya pondasi yang lebih kuat.
Artikel Terkait
Nelayan Temukan Sabu Lebih dari Satu Kilogram di Pantai Pangkep
BAZNAS dan Puskesmas Bagikan 114 Paket Gizi untuk Tekan Stunting di Bone
Kasadum TNI: Musuh adalah Hadiah untuk Berbuat yang Terbaik
Minibus Terjun ke Jurang 50 Meter di Padang Pariaman, Seluruh Penumpang Selamat