Sepuluh Ribu Rupiah yang Tak Terbeli: Ketika Sebatang Pena Menjadi Harga Sebuah Nyawa

- Rabu, 04 Februari 2026 | 14:00 WIB
Sepuluh Ribu Rupiah yang Tak Terbeli: Ketika Sebatang Pena Menjadi Harga Sebuah Nyawa

Islam punya pandangan lain. Di sini, pendidikan adalah hak dasar setiap anak dan kewajiban mutlak negara. Negara tak cuma jadi fasilitator, tapi pelindung yang harus memastikan setiap kebutuhan pendidikan bahkan sampai alat tulis terpenuhi tanpa syarat.

Dalam pandangan ini, kemiskinan tak boleh jadi penghalang untuk belajar, apalagi alasan untuk kehilangan nyawa. Kalau ada satu saja anak yang tak mampu beli pena, yang patut dipertanyakan adalah kepemimpinan dan sistemnya, bukan kondisi keluarganya.

Karena itu, tragedi ini tak boleh cuma dibalas dengan duka cita. Ia menuntut evaluasi yang lebih mendalam, bahkan ideologis. Sistem macam apa yang kita pertahankan, sampai-sampai seorang anak merasa hidupnya lebih murah dari sepuluh ribu rupiah? Negara seperti apa yang sanggup danai ambisi besar, tapi gagal total menyediakan pena untuk seorang pelajar?

Ia cuma ingin pena. Tapi yang dia terima malah keputusasaan.

Dan selama arah kebijakan kita masih terbelenggu oleh sekularisme-kapitalisme, tragedi semacam ini bukan lagi kecelakaan. Ia adalah keniscayaan yang akan terus berulang, dengan nama dan wajah korban yang berbeda-beda.

Selvi Sri Wahyuni, M.Pd
Pegiat Pendidikan


Halaman:

Komentar