Di tengah riuh lalu lintas Jembatan Bojong, Karawang, sosok Ujang Pirdaos (44) kerap berdiam memandang aliran Sungai Citarum. Tangannya mencatat, matanya awas. Sejak 2007, lelaki ini ditugaskan BBWS Citarum sebagai penjaga pintu air sekaligus mata dan telinga bagi ketinggian air sungai legendaris itu. Perannya mungkin tak banyak diketahui orang, tapi vital bagi keselamatan ribuan warga di bantaran.
Setiap hari, dari Pos Pantau Kedung Gede di Kelurahan Tanjung Mekar itu, Ujang menyusun laporan tinggi muka air. Kerjanya rutin, namun maknanya luar biasa. Ia menjadi sumber informasi pertama yang bisa membedakan antara hari yang aman dan siaga banjir.
“Tugas saya memantau Sungai Citarum lalu bikin laporan TMA biar masyarakat tahu,” ujar Ujang, ketika ditemui suatu Jumat di akhir Januari.
“Terutama kasihan warga yang dekat bantaran sungai, kalau air naik kondisinya sering memprihatinkan,” tambahnya, suaranya lirih tapi tegas.
Kalau cuaca sedang bersahabat, ia bekerja lima hari seminggu. Tapi ritme itu langsung berubah saat musim hujan tiba. Debit air yang meningkat memaksanya berjaga 24 jam nonstop, bahkan lebih. Di situlah suka duka pekerjaan ini terasa betul.
“Ya kadang ngantuk, kehujanan tengah malam, gelap-gelapan,” kenangnya tentang masa-masa awal bertugas. “Dulu juga belum ada lampu di jembatan ini. Pos baru ada tahun 2012, sebelumnya ya bertahan sebisanya.”
Menariknya, di era serba digital ini, pemantauan Ujang masih mengandalkan cara manual alias sistem fiskal. Ia tak hanya mengawasi Karawang, tapi juga bertanggung jawab atas laporan untuk wilayah Bekasi. Sebuah tanggung jawab yang tak ringan.
Dari semua pengalamannya, tahun 2021 disebutnya sebagai kondisi terparah.
“Waktu itu benar-benar kalang kabut,” katanya, “rel kereta juga sampai terendam.”
Perjalanan kariernya punya cerita sendiri. Ia memulai dengan gaji Rp 400 ribu per bulan pada 2007. Kini, setelah bertahun-tahun setia, Ujang telah berstatus PPPK dengan penghasilan Rp 2.450.000. Sebuah peningkatan yang ia syukuri.
“Di posko ini saya sendirian buat laporan, tapi dinikmati saja,” tutup Ujang. Baginya, yang terpenting adalah informasi itu sampai. “Informasi ini penting banget, terutama buat masyarakat di bantaran Sungai Citarum.”
Dan di jembatan itu, ia tetap akan berdiri, menjadi penjaga yang tak banyak bicara, tapi andalannya banyak orang.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu