Sebuah video beredar, menampilkan seorang perempuan yang mengaku sebagai keluarga dari Farhan Gunawan. Farhan adalah kopilot pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Dalam video itu, muncul harapan sekaligus kegelisahan yang mendalam.
Keluarga punya alasan untuk berharap. Mereka menduga Farhan masih hidup. Kuncinya ada pada ponsel miliknya yang berhasil ditemukan di antara serpihan pesawat. Nah, ponsel itu menunjukkan sesuatu yang mengagetkan: ada pergerakan langkah yang terekam melalui smartwatch yang masih tersambung. Angka langkahnya disebut-sebut terus bertambah.
Perempuan dalam video itu belakangan diketahui bernama Pitri Kendedes Hasibuan, 30 tahun. Dia adalah kakak dari Dian Mulyana Hasibuan, sang pacar Farhan.
Menurut penuturan Pitri, ponsel Farhan ditemukan di hutan dan kemudian diserahkan ke adiknya, Dian. Saat dibuka, aplikasi yang terhubung dengan jam pintar Farhan itu memperlihatkan adanya aktivitas.
"Ponsel Farhan ada sama adik saya. Dan saat dibuka, aplikasi smartwatch-nya tampak ada pergerakan. Langkah bertambah," kata Pitri saat dikonfirmasi, Senin (19/1).
"Hp dia (Farhan) yang terhubung ke smartwatch-nya itu kan masih bergerak," ucapnya lagi.
Dia menjelaskan kronologinya. Pesawat jatuh pada Sabtu (17/1) siang. Esok harinya, Minggu (18/1), ponsel itu sudah berada di tangan Dian. Lalu, sekitar pukul 06.53 WITA, notifikasi dari jam tangan itu muncul. Tercatat sekitar 9.013 langkah. Yang membuat harap membuncah, angka itu terus naik sepanjang siang.
"Dicek smartwatch-nya itu ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan dari pagi jam 6 ada berapa langkah terus ditambah lagi jam 10 sampe malam juga ada," beber Pitri.
Penambahan langkah itu terus berlanjut hingga hari ketiga. Situasi inilah yang mendorong keluarga mendesak agar pencarian diperhebat. "Karena dari Hp dia yang terhubung ke smartwatch-nya itu kan masih bergerak. Kemungkinan kan masih bisa dilacak yah dari situnya," jelasnya penuh harap.
Lantas, bagaimana tanggapan pihak berwenang?
Staf AMC Basarnas Makassar, Arman Amiruddin, membenarkan bahwa ponsel Farhan telah diserahkan kepada sang pacar. "HP ini (milik Farhan) kami serahkan memang kemarin untuk bisa dibuka kuncinya. Karena lock-nya tidak bisa dibuka, kami buatkan surat pernyataan supaya bisa dibawa ke Makassar untuk dibuka," kata Arman di posko.
Arman menyebut, laporan dari keluarga sudah ditindaklanjuti. Basarnas telah berkoordinasi dengan kepolisian, tepatnya unit Cybercrime, untuk melacak posisi terakhir sinyal dari smartwatch tersebut.
"Sudah melaporkan ke Cybercrime Polda. Kami meminta supaya bisa dilacak koordinat terakhir untuk membantu kami," ujarnya.
Namun begitu, hasil dari pelacakan itu masih ditunggu. Arman juga memberikan catatan penting dari tim di lapangan. "Tim kami yang turun di lokasi dan yang menemukan barang ini, itu tidak ada sama sekali mendengar atau ada permintaan tolong suara dan lain sebagainya," sebut dia.
"Tapi melihat dari kondisi ini, kalau dilihat secara ada pergerakan, tapi untuk memastikan bahwa itu hidup atau seperti apa, kami belum bisa ini. Sambil menunggu laporan dari Cybercrime," tegas Arman, mencoba menyeimbangkan antara harapan dan realitas di medan.
Sementara itu, operasi pencarian terus berjalan tanpa henti. Hingga Senin (19/1), tim SAR gabungan telah menemukan dua korban. Satu korban laki-laki ditemukan Minggu (18/1), dan satu korban perempuan berhasil dievakuasi pada Senin (19/1).
Pesawat itu sendiri hilang kontak setelah menabrak lereng Gunung Bulusaraung. Upaya evakuasi terhadap korban lainnya masih terus dilakukan di medan yang berat itu, di tengah kabut harapan dari sebuah data di layar ponsel.
Artikel Terkait
Makassar Wajibkan Jukir Miliki KTP Lokal, Sinergi dengan Camat dan Lurah Diperkuat
Tangis Haru Calon Siswa Sekolah Rakyat Pecah di Pundak Seskab Teddy
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pemerkosaan Remaja di Makassar, Salah Satunya Masih di Bawah Umur
Kuasa Hukum Nadiem Protes Percepatan Sidang Chromobook, Sebut Langgar Prinsip Persidangan Adil