✍🏻 Fahmi Hasan Nugroho
Uang itu ilusi. Bukan cuma uang kertas yang kita pegang sekarang. Sejak dulu, konsep uang sebenarnya cuma ilusi yang disepakati bareng-bareng oleh manusia.
Coba bayangkan. Kalau zaman sekarang kita masih pakai dinar dan dirham, lalu kamu seorang petani. Kamu bakal rela bangun subuh, kerja keras di sawah berbulan-bulan, cuma buat akhirnya menukar panenanmu dengan beberapa keping dinar atau segenggam dirham.
Kenapa mau? Ya karena kamu percaya. Percaya bahwa koin-koin itu nanti bisa ditukar lagi dengan kebutuhan lain. Percaya bahwa orang lain juga akan menerimanya.
Tapi coba dipikir, sebenarnya apa sih manfaat koin emas dan perak itu? Kalau kamu bukan pandai besi, ya cuma numpuk aja. Diam di lemari. Nggak bertambah, nggak berkurang, dan nggak ada gunanya secara langsung. Mending menimbun beras atau jagung. Itu kan bisa dimakan. Koin emas? Baru ada gunanya kalau sudah ditukar dengan barang, atau dibentuk jadi perhiasan.
Sama kayak sekarang. Kamu simpan emas beberapa gram di rumah. Dipakai? Nggak. Cuma nganggur di brankas atau laci. Tapi kamu tetap nyimpen, karena yakin suatu saat ada yang mau beli. Itu intinya: kepercayaan.
Nah, Islam melihat hal ini dari sudut pandang lain. Menimbun harta yang seharusnya bisa berputar di masyarakat itu nggak dibenarkan. Kekayaan yang mengendap di lemari malah bikin ekonomi mandek.
Makanya, Islam punya aturan khusus. Kalau harta simpanan sudah mencapai batas tertentu dan nggak diputar dalam ekonomi, pemiliknya wajib bayar zakat. Itu ditarik tiap tahun, sebagai semacam “konsekuensi” atas penimbunan.
(")
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday