Indonesia Cetak Sejarah: Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat dari Target

- Kamis, 08 Januari 2026 | 17:00 WIB
Indonesia Cetak Sejarah: Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat dari Target

Swasembada Pangan 2025: Sebuah Tonggak yang Terlampaui

JAKARTA Target itu terlihat ambisius. Tapi nyatanya, Indonesia berhasil mencapainya lebih cepat. Swasembada pangan, yang ditargetkan tuntas pada 2025, justru sudah bisa diumumkan setahun lebih awal. Sebuah pencapaian yang, jujur saja, cukup mengejutkan banyak pihak.

Semuanya diresmikan lewat sebuah acara Panen Raya di Karawang, Jawa Barat, awal Januari 2026 kemarin. Suasana di sana riuh rendah, penuh dengan semangat. Acara itu bukan sekadar seremoni belaka, melainkan penanda bahwa ketahanan pangan kita akhirnya menguat. Ketergantungan pada impor, perlahan tapi pasti, bisa ditekan.

Presiden Prabowo Subianto hadir dan menyampaikan pidato yang tegas. Baginya, soal pangan ini adalah urusan paling mendasar dari kedaulatan sebuah bangsa.

“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” tegasnya.

Ucapannya itu bukan tanpa bukti. Angka-angka yang dirilis pemerintah memang cukup meyakinkan. Produksi beras nasional tahun 2025 melonjak jadi 34,71 juta ton. Itu artinya ada kenaikan signifikan, sekitar 13% lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hasilnya? Indonesia punya surplus beras 3,52 juta ton dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tak perlu impor beras sepanjang tahun 2025.

Stok di Bulog pun membengkak. Pernah menyentuh angka 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Dengan cadangan sebanyak itu, pemerintah punya ruang gerak lebih leluasa untuk mengendalikan harga dan menjaga pasokan tetap aman. Ini berita bagus buat kita semua.

Namun begitu, yang paling menggembirakan mungkin adalah dampaknya langsung ke petani. Nilai Tukar Petani (NTP) menembus angka 125, tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Artinya, pendapatan dan daya beli mereka membaik. Setelah sekian lama, jerih payah di sawah akhirnya terbayar dengan kesejahteraan yang lebih nyata.

Hebatnya lagi, sektor pertanian kita ternyata tak cuma jago urusan dalam negeri. Di pasar global, kinerjanya juga gemilang. Hingga Oktober 2025, nilai ekspornya tembus Rp629,7 triliun naik drastis lebih dari 33%. Jadi, selain bisa makan dari hasil sendiri, kita juga mulai mengekspor. Kompetitif, kata mereka.

Pencapaian ini tentu bukan akhir perjalanan. Pemerintah sendiri bilang, ini baru fondasi. Ke depan, komitmennya adalah menjaga momentum ini agar tak sekadar euforia sesaat. Swasembada akan diperluas ke komoditas lain, konsistensi produksi harus dijaga, dan yang terpenting, manfaatnya harus benar-benar merata sampai ke petani kecil dan nelayan di pelosok.

Jalan masih panjang. Tapi setidaknya, langkah awal yang satu ini patut diapresiasi.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar