Di Balik Esai yang Rapi, Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Mulai Tergerus

- Rabu, 07 Januari 2026 | 18:06 WIB
Di Balik Esai yang Rapi, Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Mulai Tergerus

Ruangan kelas di perguruan tinggi belakangan ini diam-diam berubah. Kalau dulu kita berharap mendengar diskusi kritis dan argumen yang tajam, sekarang yang sering muncul justru jawaban-jawaban yang rapi dan terdengar akademis tapi kosong. Seolah-olah, proses berpikir itu sendiri sudah digantikan oleh hasil akhirnya yang tampak menarik. Argumentasi pun lebih mirip ekspresi selera pribadi ketimbang analisis yang mendalam.

Mahasiswa sekarang memang terlihat cakap menyusun esai atau presentasi yang meyakinkan. Tapi coba tanya lebih dalam: "Kenapa klaim ini bisa dipercaya?" atau "Asumsi dasar apa yang kamu pakai?". Seringkali, jawabannya langsung goyah. Mereka seperti kehilangan pijakan. Ini bikin saya merenung. Bukankah pendidikan kita sudah semakin maju? Lalu kenapa kemampuan berpikir mendalam justru seperti menguap?

Mungkin jawabannya ada di sekitar kita. Dunia sekarang digerakkan oleh algoritma dan kecerdasan buatan. Akibatnya, berpikir kritis yang seharusnya jadi ciri khas manusia terancam direduksi jadi sekadar menghasilkan output yang "tampak" masuk akal.

Di tengah kegelisahan ini, saya teringat pada kerangka berpikir William Huitt dari awal 90-an. Huitt tidak melihat berpikir kritis sebagai sekumpulan skill teknis belaka. Baginya, itu adalah aktivitas mental yang terdisiplin untuk mengevaluasi argumen, dengan tujuan akhir membentuk keyakinan dan tindakan. Definisi ini penting karena menghindari dua kesalahan umum: menganggap kritis itu sama dengan sikap sinis, atau mencampuradukkan perasaan pribadi dengan evaluasi rasional.

Artinya, berpikir kritis itu bukan cuma urusan otak. Ia selalu melibatkan kemauan untuk menahan diri, bersabar dengan hal-hal yang belum jelas, dan berani merasa tidak nyaman secara intelektual. Di sini, wilayah etika mulai tersentuh.

Scriven dan Paul juga pernah menegaskan hal serupa. Bagi mereka, berpikir kritis adalah proses disiplin yang melibatkan konseptualisasi, analisis, hingga sintesis. Tujuannya jelas: menjadi panduan untuk bertindak. Jadi, ini bukan sekadar permainan benar-salah di atas kertas.

Namun begitu, ekosistem digital kita justru bekerja dengan cara sebaliknya. AI generatif bisa menghasilkan teks yang mirip hasil pemikiran kritis, tapi tanpa ada tubuh yang menanggung risiko, tanpa komitmen nyata. Seperti yang diingatkan Larson dan kawan-kawan (2024), teknologi semacam ini berpotensi mengikis dua hal: kemampuan individu menilai bukti, dan kemampuan sosial untuk mempertanyakan struktur kekuasaan. Saat jawaban datang dengan cepat dan terdengar otoritatif, kita jadi malas bertanya: "Haruskah saya percaya ini?"

Pengalaman saya merancang kuis Benar/Salah untuk mata kuliah Critical and Creative Thinking cukup membuka mata. Soal-soal itu sengaja dibuat tanpa ruang untuk retorika atau basa-basi.


Halaman:

Komentar