Golf di Thailand dan Sorotan Baru pada Aliran Dana Kasus Korupsi Pertamina

- Rabu, 07 Januari 2026 | 17:25 WIB
Golf di Thailand dan Sorotan Baru pada Aliran Dana Kasus Korupsi Pertamina

Eks Direktur PIS Main Golf di Thailand dengan Swasta, Aktivis Minta Hakim Selidiki Aliran Dana

Di tengah persidangan kasus korupsi minyak Pertamina, ada pengakuan yang menarik perhatian. Arief Sukmara, mantan Direktur Gas, Petrokimia, dan Bisnis Baru PT Pertamina International Shipping (PIS), tak membantah kalau dia pernah main golf di Thailand. Yang jadi soal, lawan mainnya adalah pihak swasta yang punya kaitan bisnis.

Dua nama disebut: Dimas Werhaspati dari PT Navigator Katulistiwa dan Gading Ramadhan Joedo dari PT Jenggala Maritim yang juga menjabat di PT Orbit Terminal Merak. Pertemuan di lapangan hijau itu kini jadi sorotan.

Menanggapi hal ini, Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, punya pandangan keras. Baginya, klaim Arief bahwa biaya golf itu ditanggung patungan oleh semua peserta terdengar menggelikan.

“Adanya delapan pejabat PT PIS bersama pihak swasta penyedia kapal main golf di Thailand yang dananya diklaim patungan itu hanya bikin ketawa saja,” ujar Febri, Rabu (7/1/2026).

Menurut Febri, pengakuan lisan saja tidak cukup. Majelis hakim dinilainya perlu turun lebih dalam, mencari bukti yang konkret.

“Seharusnya Pak Hakim meminta delapan nota pembayaran permainan golf tersebut, lalu langsung diverifikasi ke perusahaan atau lapangan golf di Thailand. Benar atau tidak biayanya berasal dari dana pribadi masing-masing,” tegasnya.

Narasi golf ini, lanjut Febri, bukan perkara remeh. Ini berkait langsung dengan kasus inti: dugaan kerugian negara dalam proyek sewa kapal untuk angkut minyak mentah. Nilainya disebut-sebut mencapai USD 9.860.514,31 plus Rp 1.073.619.047,00.

Dengan angka kerugian sebesar itu, desakannya jelas. Hakim dan jaksa didesak untuk membongkar aliran dana, menelusuri kemana uang negara itu mengalir.

“Dengan kerugian negara sebesar itu, hakim dan jaksa harus menelusuri ke mana saja uang tersebut mengalir, masuk ke kantong siapa saja. Itu yang paling penting untuk dibuka ke publik,” pungkas Febri.

Kini, bola ada di pengadilan. Apakah pertanyaan soal golf yang "patungan" itu akan dibiarkan menguap, atau justru jadi pintu masuk untuk mengungkap lebih banyak hal.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar