Rizal Fadillah Desak Uji Forensik Independen Ijazah Jokowi: Jangan Jadi Ketombe Bangsa
Kritik keras kembali dilontarkan M Rizal Fadillah. Pemerhati politik dan kebangsaan itu menyoroti polemik ijazah Presiden Joko Widodo yang tak kunjung reda. Kali ini, ia mendesak Kepolisian Republik Indonesia membuka ruang untuk uji forensik independen. Tujuannya jelas: mengakhiri kontroversi yang sudah terlalu lama bergulir di ruang publik.
Dari Bandung, Rabu lalu, Rizal mempertanyakan sikap Polri. Menurutnya, ada keengganan dari institusi tersebut untuk melibatkan pihak independen di luar tubuh mereka. Padahal, kalau ijazah itu memang asli, bukankah seharusnya justru diumbar? Tidak ada alasan untuk menolak pemeriksaan terbuka.
“Apa sulitnya mengizinkan uji forensik independen jika dua hal terpenuhi: ijazah itu diyakini asli dan ada keinginan menyelesaikan persoalan ini secara profesional,” ujar Rizal.
Ia melihat, sikap Polri yang bersikukuh melakukan pemeriksaan secara internal justru berbahaya. Krisis kepercayaan publik bisa makin panjang. Keraguan masyarakat, kata dia, tak akan pernah berhenti jika prosesnya tertutup dan hanya melibatkan satu pihak.
Dampaknya pun sudah merambah ke ranah lain. Rizal menyinggung beban sosial dan psikologis yang kini menghantui Jokowi dan keluarganya. Sorotan publik juga tertuju pada riwayat akademik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya, polemik ini telah berubah wujud. Ia kini menjadi semacam “hukuman sosial” yang bobotnya bahkan bisa lebih berat dari sanksi hukum formal. Rizal mengaitkannya dengan dinamika politik nasional yang dinilainya tidak sehat, terutama soal dominasi kekuasaan keluarga.
Lalu, apa solusinya? Dalam pandangan Rizal, jalan keluarnya cuma satu: uji forensik menyeluruh dan benar-benar independen. Ia menyarankan melibatkan banyak pihak, seperti BRIN, TNI, perguruan tinggi ternama, bahkan kalau perlu lembaga forensik internasional.
“Bukan uji forensik sepihak oleh polisi. Harus independen, terbuka, dan obyektif. Jika memang asli, buktikan seterang-terangnya,” tegasnya.
Di sisi lain, Rizal juga menyoroti pernyataan Jokowi sendiri yang bilang polemik ini tak akan pernah selesai. Sikap seperti itu, menurutnya, justru memicu kecurigaan. Alih-alih meredakan, pernyataan itu malah memperkuat dugaan ada upaya menutup-nutupi.
Ia punya analogi yang cukup gamblang. Polemik ijazah ini, baginya, ibarat “ketombe” yang terus mengganggu kehidupan berbangsa. Sementara itu, Polri diharapkan bisa menjadi “sampo pembersih” yang efektif, membersihkan persoalan ini sampai tuntas.
“Jokowi tidak perlu jadi ketombe yang membuat gatal kepala bangsa. Kepolisian harus berani menjadi shampo pembersih yang efektif,” pungkas Rizal.
Artikel Terkait
Persib Kokohkan Puncak Klasemen Usai Kalahkan Persita 1-0
KAMMI Serahkan Hasil Panen Beras Sambas ke Mentan, Buktikan Peran Pemuda dalam Ketahanan Pangan
IHSG Melemah Tipis, Analis Soroti Level Kunci 8.170 untuk Tren Berikutnya
Kemenag Tegaskan Aturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada, Tanggapi Protes WNA di Gili Trawangan