Kemarahan meluas menyusul penangkapan paksa wartawan Royman M Hamid di Sulawesi Tengah. Bagi banyak pengamat, insiden ini bukan sekadar pelanggaran terhadap kebebasan pers, melainkan sebuah pertanda yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Pengamat politik M Said Didu tak ragu menyebutnya. Menurutnya, fakta yang mengejutkan adalah negara seolah sudah lenyap di Morowali. "Yang berkuasa sekarang adalah oligarki," tegasnya.
Pernyataan itu disampaikan Didu dalam sebuah obrolan di Bang Edy Channel, kanal YouTube milik wartawan senior Edy Mulyadi. Dia dengan keras mengecam metode penangkapan Royman. Baginya, cara yang dipakai polisi mirip sekali dengan pengejaran terhadap gembong narkoba kelas kakap.
"Video yang beredar menunjukkan adegan seperti menangkap gembong narkoba. Bahkan ada laporan serombongan polisi mendatangi rumah kakak wartawan ini dengan melepas tembakan ke udara. Sadis,"
Lalu, apa akar masalahnya? Didu menganalisis, penangkapan ini tak lepas dari perlawanan oligarki terhadap langkah tegas Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kawasan itu. Gebrakan Sjafrie untuk menertibkan perampokan sumber daya alam, sayangnya, tidak dibarengi pengawalan yang memadai. Alhasil, perlawanan pun muncul.
Menurut Didu yang sudah lima kali berkunjung ke Morowali, pola penangkapan terbuka dan penuh kekerasan itu punya pesan terselubung. "Ini bukan cuma untuk yang ditangkap," ujarnya, "tapi sebagai peringatan untuk pihak lain."
Di sisi lain, Didu melihat ada tiga kekuatan yang kini secara terbuka melawan Presiden Prabowo. Dia menyebutnya dengan istilah khas: Solo (partai politik busuk), Oligarki, dan Parcok (pejabat polisi busuk). Sebagai bukti, dia menyebut dua nama Zulfan Lindan dan Ade Armando yang langsung menyerang Sjafrie melalui podcast mereka.
Kepada Prabowo, Didu menyampaikan seruan. Dia meminta presiden untuk kembali ke jati diri sejati dan lepas dari bayang-bayang oligarki.
"Pak Sjafrie Sjamsoeddin sekarang sudah dilawan oleh oligarki. Maka pilihan Bapak adalah melanjutkan operasi sapu bersih terhadap oligarki dan parcok yang sekarang sudah melawan Bapak secara terbuka,"
Edy Mulyadi, yang hadir dalam obrolan itu, menambahkan nada pesimis. Dia menilai rakyat sudah tak bisa lagi berharap pada aparat, tentara, polisi, atau bahkan pejabat.
"Rakyat harus bangkit melawan, menentukan diri sendiri untuk menyelamatkan Indonesia,"
Tak hanya berkomentar, Didu dan sejumlah aktivis lain dikabarkan sedang menginisiasi sebuah gerakan. Tujuannya: merebut kembali kedaulatan rakyat. Gerakan ini rencananya akan melibatkan partisipasi dari berbagai lapisan, tak terkecuali dari luar negeri.
Artikel Terkait
Crystal Palace Juara Conference League, Chelsea Absen dari Kompetisi Eropa Musim Depan
Fajar/Fikri Kalahkan Juara Malaysia Masters, Melaju ke Perempat Final Singapore Open 2026
Pengaruh Jokowi Dinilai Makin Kuat Pasca-Lengser, Elite Politik Disebut Kepanasan
21 Wisatawan Terjebak Banjir Bandang di Sungai Usa Bone Berhasil Dievakuasi Selamat