“Paksa diri untuk shalat. Paksa diri untuk tutup aurat. Paksa diri untuk taat Allah. Karena memaksakan diri untuk masuk surga lebih baik daripada sukarela masuk neraka”.
Kalimat itu pasti sering kita dengar, ya. Ia seperti pengingat keras: lebih baik berjuang taat meski berat, ketimbang mengikuti kemauan sendiri yang akhirnya malah menjerumuskan. Hidup di tengah sistem yang seringkali membuat ibadah terasa aneh dan dosa terasa biasa, memang bukan perkara mudah. Butuh tenaga ekstra untuk tetap waras, untuk tetap bertahan di jalan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Lalu, bisakah kita masuk surga tanpa merasa dipaksa? Bisakah kita menghindari neraka dengan kesadaran penuh, bukan karena ketakutan semata?
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.
Nasihat bijak ini datang dari ulama-ulama terdahulu. Intinya jelas: kunci utamanya ada pada pengenalan diri. Dan ini cuma bisa didapat dengan menggunakan akal secara serius, merenungi pertanyaan-pertanyaan besar hidup. Dari mana kita datang? Untuk apa kita hidup di dunia ini? Dan apa yang menanti setelah nafas terakhir?
Mengurai Hakikat Diri
Coba kita amati. Mulai dari diri kita sendiri. Proses penciptaan manusia, dari rahim hingga lahir, itu luar biasa rumit dan menakjubkan. Sistem dalam tubuh kita bekerja dengan presisi yang tak tertandingi. Lalu lihatlah alam sekitar. Keanekaragaman hayati di bumi ini jumlahnya fantastis, mencapai triliunan spesies. Itu baru yang berhasil diidentifikasi ilmuwan.
Bahkan makhluk yang kita anggap remeh, seperti nyamuk, punya anatomi yang super kompleks. Tidak ada robot tercanggih buatan manusia yang bisa menirunya dengan sempurna. Tumbuhan juga begitu. Sumber makanannya sama: karbon dioksida, air, zat hara tanah. Tapi lihat hasilnya: batang, daun, bunga, dan buahnya bisa sangat berbeda, dengan rasa dan manfaat yang beragam.
Belum lagi kehidupan di laut, atau kekayaan mineral di perut bumi. Gunung-gunung yang menjulang, langit yang tegak tanpa tiang. Bintang-bintang dan galaksi di angkasa yang jaraknya begitu jauh, membuat teknologi manusia hari ini pun tak mampu menjangkaunya sepenuhnya.
Dari secuil pengamatan ini, nalar kita akan tertuntun pada satu kesimpulan: mustahil semua ini ada tanpa ada Sang Pencipta yang mengaturnya. Manusia, hewan, tumbuhan, alam semesta semuanya punya kesamaan: terbatas. Mereka lemah, serba kurang, dan selalu butuh pada yang lain.
Setiap makhluk punya akhir. Manusia ada ajalnya. Alam semesta pun, menurut para ilmuwan, punya beberapa skenario akhir: bisa karena matahari kehabisan energi, atau karena tabrakan benda langit raksasa.
Kita ini lemah. Sakit adalah buktinya. Kita juga pelupa. Mata kita terbatas, tidak bisa melihat tembus dinding. Telinga kita punya batas frekuensi, bisa rusak jika dipaksa. Kita butuh makan, minum, butuh oksigen dari tumbuhan, butuh cahaya matahari. Secara sosial, kita juga tidak bisa hidup sendiri. Saling ketergantungan adalah hukum alam.
Nah, sifat-sifat terbatas, lemah, dan butuh ini adalah ciri khas makhluk. Sang Pencipta, pastinya, mustahil punya sifat seperti itu. Dia pasti berbeda dengan ciptaan-Nya. Dia tidak berawal dan tidak berakhir. Keberadaan-Nya mutlak, tidak bergantung pada apa pun. Dialah Allah SWT.
Dari sini, kesadaran itu tumbuh: kita adalah hamba. Dan kita diciptakan dengan misi yang jelas. Sebagaimana firman-Nya:
Artikel Terkait
Teriakan Fuck Israel di Malam Tahun Baru: Ketika Ucapan Selamat Berubah Jadi Protes Global
Inspirasi Bom Sekolah: Cosplay Teror dari Grup Chat Internasional
Golf di Thailand dan Sorotan Baru pada Aliran Dana Kasus Korupsi Pertamina
Presiden Prabowo Sematkan Satyalancana untuk Bupati Karawang di Puncak Panen Raya