HUTANG VENEZUELA: Dari Kemewahan Minyak ke Jerat Utang
✍🏻 Nazri Hamdan
Pernahkah Anda membayangkan Venezuela sebagai negara kaya? Mungkin sulit sekarang. Tapi faktanya, dulu mereka adalah raksasa ekonomi di Amerika Latin.
Bayangkan Caracas di era 1950-an hingga 70-an. Kota itu gemerlap, penuh kehidupan. Bolívar, mata uangnya, begitu kuat. Semua itu berkat derasnya pendapatan dari minyak yang diekspor ke AS dan Eropa. Mereka hidup nyaman, bahkan mewah.
Namun begitu, kekayaan minyak ternyata ibarat pedang bermata dua. Ekonomi mereka jadi tergantung sekali pada satu komoditas itu. Sektor-sektor lain terbengkalai dan melemah.
Bom waktu pun mulai berdetak. Saat harga minyak anjlok, pendapatan negara ikut kolaps. Ditambah lagi, budaya subsidi besar-besaran dan pengeluaran pemerintah yang tak terkendali makin memperparah keadaan. Utang yang menumpuk di masa kejayaan minyak akhirnya datang menagih.
Masalah struktural ini memburuk di era Presiden Hugo Chavez dan penerusnya, Nicolás Maduro. Nasionalisasi industri berjalan masif. Campur tangan politik merambah ke perusahaan minyak negara, PDVSA. Korupsi dan salah urus merajalela. Hasilnya? Produksi minyak yang selama ini jadi nadi kehidupan tergerus drastis.
Pukulan berikutnya datang dari sanksi AS. Akses Venezuela ke pasar keuangan global terputus. Pemerintah pun mencetak uang secara gila-gilaan untuk menutupi defisit. Hiperinflasi tak terelakkan. Mata uangnya ambruk, perekonomian lumpuh total.
Kini, negara itu terperangkap dalam utang yang nyaris mustahil dibayar. Perkiraannya mencapai USD 150 hingga 170 miliar. Angka yang fantastis untuk negara dengan PDB nominal cuma sekitar USD 80 miliar. Rasio utangnya hampir dua kali lipat PDB, menempatkannya di jajaran teratas negara gagal bayar.
Utang ini bukan cuma milik pemerintah. Perusahaan minyak PDVSA juga punya andil besar, plus ada tunggakan bunga, klaim hukum lama, dan kompensasi penyitaan aset. Benar-benar ruwet.
Lalu, siapa saja krediturnya? Di satu sisi, ada investor obligasi internasional dan apa yang disebut ‘dana pemangsa’. Mereka membeli utang Venezuela saat harganya terjun bebas di tengah krisis, tentu saja dengan harga murah. Di sisi lain, ada raksasa energi seperti ConocoPhillips dan Crystallex. Mereka memenangkan gugatan arbitrase internasional setelah asetnya dinasionalisasi di era Chavez-Maduro.
Aset paling panas yang jadi rebutan adalah CITGO. Kilang minyak milik Venezuela yang berbasis di AS ini jadi sasaran empuk para kreditur lewat pengadilan Amerika. Nilai klaim yang menumpuk jauh melampaui nilai asetnya sendiri. Jelas, tak semua pihak akan dibayar lunas.
Masalahnya, sanksi AS sejak 2017 bikin restrukturisasi utang jadi mimpi di siang bolong. Venezuela tak bisa terbitkan obligasi baru atau nego ulang utang tanpa izin khusus dari Departemen Keuangan AS. IMF pun tak bisa masuk karena hubungan dengan Caracas sudah putus bertahun-tahun.
Jadi, meski ada banyak ide seperti pemotongan pokok utang 50%, pembayaran 20 tahun, atau mengaitkan cicilan dengan harga minyak semuanya masih teoritis. Selama politik dan sanksi tak berubah, semuanya mentok di wacana.
Yang menarik, pasar utang malah sudah mulai berpesta lebih awal. Obligasi Venezuela yang pernah nyaris tak bernilai, kini diperdagangkan sekitar 27 sampai 32 sen per dolar. Spekulan bertaruh bahwa perubahan politik dan tekanan AS akan membuka jalan untuk pembayaran kembali.
Tapi realitanya pahit. Ekonomi Venezuela masih sangat lemah. Pendapatan dari minyak terbatas. Aset-asetnya habis diperebutkan di pengadilan. Singkat kata, ini bukan lagi cerita tentang menyelamatkan Venezuela. Ini lebih seperti perlombaan serakah: siapa yang bisa menggasak sisa-sisa kas negara yang sekarat ini paling cepat.
Penulis adalah analis internasional dari Malaysia.
Artikel Terkait
Bayern Muenchen Tahan Kejar Frankfurt untuk Raih Kemenangan 3-2
Pemprov Sulsel Gelar Ramadhan Leadership Camp untuk Bentuk Karakter ASN
Carrick Siap Pimpin Manchester United Secara Permanen
Kapolri Tekankan Sinergi Polri, Serikat Pekerja, dan Masyarakat Hadapi Dampak Global