Venezuela Tercekik: Minyak Berlimpah Berujung Utang Rp 2.400 Triliun

- Senin, 05 Januari 2026 | 16:20 WIB
Venezuela Tercekik: Minyak Berlimpah Berujung Utang Rp 2.400 Triliun

HUTANG VENEZUELA: Dari Kemewahan Minyak ke Jerat Utang

✍🏻 Nazri Hamdan

Pernahkah Anda membayangkan Venezuela sebagai negara kaya? Mungkin sulit sekarang. Tapi faktanya, dulu mereka adalah raksasa ekonomi di Amerika Latin.

Bayangkan Caracas di era 1950-an hingga 70-an. Kota itu gemerlap, penuh kehidupan. Bolívar, mata uangnya, begitu kuat. Semua itu berkat derasnya pendapatan dari minyak yang diekspor ke AS dan Eropa. Mereka hidup nyaman, bahkan mewah.

Namun begitu, kekayaan minyak ternyata ibarat pedang bermata dua. Ekonomi mereka jadi tergantung sekali pada satu komoditas itu. Sektor-sektor lain terbengkalai dan melemah.

Bom waktu pun mulai berdetak. Saat harga minyak anjlok, pendapatan negara ikut kolaps. Ditambah lagi, budaya subsidi besar-besaran dan pengeluaran pemerintah yang tak terkendali makin memperparah keadaan. Utang yang menumpuk di masa kejayaan minyak akhirnya datang menagih.

Masalah struktural ini memburuk di era Presiden Hugo Chavez dan penerusnya, Nicolás Maduro. Nasionalisasi industri berjalan masif. Campur tangan politik merambah ke perusahaan minyak negara, PDVSA. Korupsi dan salah urus merajalela. Hasilnya? Produksi minyak yang selama ini jadi nadi kehidupan tergerus drastis.

Pukulan berikutnya datang dari sanksi AS. Akses Venezuela ke pasar keuangan global terputus. Pemerintah pun mencetak uang secara gila-gilaan untuk menutupi defisit. Hiperinflasi tak terelakkan. Mata uangnya ambruk, perekonomian lumpuh total.

Kini, negara itu terperangkap dalam utang yang nyaris mustahil dibayar. Perkiraannya mencapai USD 150 hingga 170 miliar. Angka yang fantastis untuk negara dengan PDB nominal cuma sekitar USD 80 miliar. Rasio utangnya hampir dua kali lipat PDB, menempatkannya di jajaran teratas negara gagal bayar.


Halaman:

Komentar