Oktober tahun lalu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato yang keras. Sangat keras. Dalam acara Con Maduro yang disiarkan televisi nasional, tepat di momen peringatan satu tahun perang Israel-Hamas, ia tak hanya menyatakan dukungan pada Palestina. Ia melancarkan kecaman yang sangat tajam terhadap Israel.
Pidato yang berlangsung hampir tiga jam itu penuh dengan pernyataan-pernyataan kuat. Maduro menyebut perjuangan pembebasan Palestina sebagai "pertempuran terpenting dalam sejarah umat manusia." Baginya, narasi sejarah Israel patut ditolak. Ia bersikukuh bahwa Palestina adalah sebuah wilayah yang telah ada jauh sebelum negara Israel modern berdiri.
"Palestina selalu menjadi Palestina. Pertempuran terpenting dalam sejarah umat manusia adalah pembebasan Palestina dan pembebasan Yerusalem," tegas Maduro.
Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan pernyataan yang pasti menuai kontroversi: menyebut Yesus Kristus sebagai "seorang Palestina." Maduro menegaskan, Yerusalem adalah pusat bagi para nabi dari tiga agama Yahudi, Kristen, dan Islam.
Di sisi lain, serangannya terhadap Israel sangat gamblang. Maduro menuding negara itu melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil. Ia geram dengan media internasional yang, menurutnya, menggambarkan konflik ini sekadar sebagai perang melawan Hamas. Narasi itu, bagi Maduro, menutupi realita mengerikan: korban sipil yang berjatuhan dalam jumlah sangat besar.
Artikel Terkait
Operasi AS di Venezuela Tewaskan 80 Orang, Maduro Ditahan di New York
Dino Patti Djalal Sindir Kemlu: Jangan Hanya Jadi Penurut AS
Bibit Siklon Tropis 91S Menguat, BMKG Peringatkan Dampak hingga Pesisir Jawa
Si Jago Merah Melalap Rumah di Tanjung Duren, 13 Unit Damkar Dikerahkan