Krisis Lahan di TPU Karet: Saat Satu Kubur Menampung Tiga Generasi

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 16:40 WIB
Krisis Lahan di TPU Karet: Saat Satu Kubur Menampung Tiga Generasi

Suasana di TPU Karet Pasar Baru Barat itu kontras banget. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk Tanah Abang gedung-gedung tinggi, lalu lalang kendaraan tapi di dalam, ada keheningan yang pelan-pelan terdesak. Makam seluas hampir 6,9 hektare itu kini dikepung beton dan kaca, dan yang tersisa hanyalah nisan-nisan yang berjejalan rapat. Sudah tidak ada lagi tanah kosong.

Sejak 2017, tempat peristirahatan terakhir ini resmi dinyatakan penuh. Kalau ada warga yang meninggal, satu-satunya opsi cuma makam tumpang. Tidak ada lagi lahan baru.

“Sudah penuh sejak tahun 2017. Sekarang hanya melayani makam tumpang saja,”

kata Ade Rendra, operator TPU, Rabu lalu. Suaranya terdengar biasa saja, seperti mengonfirmasi sebuah fakta yang sudah jadi rutinitas.

Secara administratif, pemakaman Islam ini terbagi lima blok besar dengan puluhan petak. Tapi pembagian itu cuma untuk penataan, bukan pertanda masih ada sisa lahan. Di hari-hari biasa, suasana di sini lengang. Kadang hanya beberapa peziarah yang datang, membawa bunga atau air mawar. Aktivitas justru lebih terlihat dari petugas kebersihan yang menyapu jalan setapak atau memangkas rumput yang tumbuh di sela-sela nisan.

Ade menambahkan, pembersihan dilakukan setiap hari. “Penyapuan dan pengangkutan sampah dilakukan setiap hari. Pembabatan rumput Senin sampai Jumat. Area dibagi menjadi empat zona kerja,” jelasnya.

Namun begitu, tanda-tanda kepadatan itu nyata terpampang. Coba lihat susunan nisannya sangat rapat. Di beberapa titik, ada gundukan makam yang tampak lebih menjulang, sekitar setengah meter lebih tinggi dari yang di sebelahnya. Itulah ciri khas makam tumpang, di mana satu liang lahan bisa dipakai untuk dua, bahkan tiga jenazah.

Sebuah nisan di blok A1, misalnya, mencatat tiga nama dengan tahun wafat yang berbeda jauh: 1994, 2010, dan 2023. Satu kuburan, tiga generasi. Pola seperti ini sekarang makin umum ditemui, sebuah konsekuensi logis dari kota yang terus tumbuh vertikal, sementara tanah untuk yang meninggal tak bisa diperluas.

Pada akhirnya, kondisi TPU Karet ini cuma satu contoh dari persoalan yang lebih besar. Ia seperti potret mini krisis lahan makam di Jakarta. Ketika tanah sudah penuh, pilihannya sangat terbatas. Makam tumpang jadi solusi yang nggak ideal, tapi mau bagaimana lagi? Pertanyaannya menggelayut: kalau suatu saat nanti, tumpang-tindih pun sudah mencapai batasnya, lalu ke mana warga ibu kota akan dibawa?

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar