"Kami datang dengan kesadaran bahwa hari ini berdiri di atas pundak begitu banyak orang yang disuruh menunggu giliran mereka, meredam tuntutan mereka, menurunkan harapan mereka," lanjut Latif.
Ia menyebut mereka memilih untuk percaya bahwa New York yang lain mungkin terjadi. Keyakinan itu, tegasnya, diwujudkan oleh para penyewa yang melawan penggusuran, pekerja yang menuntut upah adil, orang tua yang memperjuangkan anaknya, dan komunitas yang bertahan meski peluang tipis.
Ritme doanya kemudian mengalir, menggambarkan kota yang membentuk hati warganya. Dari kebisingan, lingkungan, kereta bawah tanah, hingga mimpi yang diungkap dalam berbagai bahasa di blok-blok yang ramai.
"Kami berterima kasih kepada-Mu untuk Kota New York. Untuk tempat yang telah mengajarkan kepada dunia bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan, bagaimana kelangsungan hidup dapat menjadi solidaritas, bagaimana orang asing dapat menjadi tetangga."
Penutup doanya punya pesan yang dalam. Kota ini, katanya, mengajarkan bahwa seorang pemuda, imigran, sosialis demokrat, dan Muslim bisa maju dan menang. Bukan dengan meninggalkan keyakinan, tapi justru dengan berdiri teguh di dalamnya. Bukan dengan mengecilkan jati diri, melainkan dengan percaya bahwa keaslian diri bisa menggerakkan kota menuju keadilan.
Rekaman lengkap momen tersebut bisa disimak pada video di atas.
Artikel Terkait
Tragedi Warakas: Satu Kelarga Terkena Musibah, Diduga Akibat Keracunan
19 Personel Polda Babel Dipecat, LGBT Jadi Sorotan
Menulis Jurnal, Kunci Sederhana Menyambut Tahun Baru dengan Lebih Bermakna
Era Baru Hukum Pidana Indonesia Resmi Dimulai