Namun begitu, ada juga jebakan lain. Ingin terlihat kekinian, beberapa akun mencoba gaya bahasa yang terlalu santai. Slang dan canda digunakan untuk membahas kebijakan serius.
Ini juga problematik. Dalam situasi krisis, gaya seperti ini malah menimbulkan kesan tidak peka. Wibawa sebuah institusi tidak datang dari kekakuan, tapi juga tidak boleh luntur karena gaya bahasa yang sama sekali tak sesuai konteks.
Banyak Juru Bicara, Banyak Versi
Inkonsistensi adalah masalah klasik lain. Satu kebijakan bisa punya banyak penjelasan, tergantung pejabat mana yang berbicara. Bagi yang di dalam, ini mungkin dinamika internal yang wajar.
Tapi bagi publik? Mereka melihat negara yang tidak kompak, tidak satu suara. Di era di mana informasi menyebar dalam hitungan detik, inkonsistensi semacam ini adalah bahan bakar sempurna untuk memicu spekulasi dan erosi kepercayaan.
Terburu-buru itu Berisiko
Tekanan untuk merespons cepat di media sosial itu nyata. Tapi kecepatan tanpa ketepatan justru berbahaya. Respons yang tergesa-gesa, dengan diksi yang kurang matang, bisa meninggalkan jejak digital yang susah dihapus.
Di sinilah pentingnya jeda sejenak untuk mengkurasi bahasa. Bukan untuk menyensor, tapi memastikan pesan yang penting itu sampai dengan cara yang benar, pada orang yang tepat.
Peran Penerjemah yang Hilang
Jadi, tantangannya bukan sekadar bicara lebih kerap. Tantangan sesungguhnya adalah menerjemahkan. Menerjemahkan bahasa negara menjadi bahasa warga.
Ini membutuhkan peran khusus: komunikator atau humas yang bukan hanya paham substansi kebijakan, tapi juga mengerti detak jantung media sosial dan pergulatan hidup masyarakat biasa. Tanpa penerjemah yang mumpuni, jurang akan tetap ada, seberapa banyak pun kanal komunikasi yang dibuka.
Bahasa yang Jelas adalah Hormat
Pada akhirnya, menggunakan bahasa yang jelas dan manusiawi adalah bentuk penghormatan. Itu tanda bahwa negara menghargai waktu, kecerdasan, dan perhatian warganya.
Ketika pemerintah bisa bicara sederhana tanpa merendahkan, santun tanpa kehilangan wibawa, dan konsisten tanpa membingungkan, barulah jarak itu perlahan menyempit. Di dunia yang serba cepat dan bising, justru ketepatan dan kejernihan bahasalah yang menentukan: apakah negara ini benar-benar hadir, atau sekadar lalu-lalang.
Catatan: Tulisan ini adalah bagian ketiga dari sebuah serial opini. Meski saling terkait, setiap artikel bisa dibaca secara mandiri. Pandangan yang disampaikan adalah pendapat pribadi penulis.
Artikel Terkait
Tahun Baru 2026: Keramaian, Kebersihan, dan Cerita Sederhana di Balik Kemeriahan
Nikel dan BRICS: Diplomasi Hilirisasi Indonesia di Tengah Perang Dagang Global
Prabowo Tinjau Aceh Tamiang: Uang Lelah Dikoreksi Jadi Uang Semangat
Anak Sulung: Dewasa Sebelum Waktunya, Lelah yang Tak Terucapkan