Kain Kafan di Rapat Akhir Tahun, Wali Kota Palembang Ingatkan Pejabat Soal Akhirat

- Rabu, 31 Desember 2025 | 18:06 WIB
Kain Kafan di Rapat Akhir Tahun, Wali Kota Palembang Ingatkan Pejabat Soal Akhirat

Rapat evaluasi akhir tahun di Pemkot Palembang biasanya berjalan formal. Tapi Rabu kemarin, 31 Desember 2025, suasana di ruangan itu berubah total. Ada ketegangan yang nyaris bisa dirasakan, bercampur dengan kesunyian yang penuh makna. Di depan para pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Wali Kota Ratu Dewa dan Wakilnya, Prima Salam, justru membagikan kain kafan.

Menurut Ratu Dewa, aksi itu punya maksud yang dalam. Kain kafan itu bukan sekadar benda, melainkan simbol pengingat. Jabatan yang mereka emban adalah amanah berat, yang nanti tak cuma dipertanggungjawabkan di dunia, tapi juga kelak di akhirat.

“Kain kafan ini untuk pengingat bahwa kita semua akan mati dan mempertanggungjawabkan jabatan kita di hadapan Tuhan,”

ujar Ratu Dewa tegas.

Dia menegaskan, ini sama sekali bukan ancaman. Ini lebih ke peringatan keras, supaya para pejabat enggak main-main dan lalai dalam tugas. Intinya, dia mau semua kepala OPD paham betul. Jabatan itu bukan cuma soal kekuasaan atau kursi nyaman.

“Kami ingin para kepala OPD sadar bahwa jabatan bukan sekadar kekuasaan, tapi amanah yang harus dijaga dengan hati nurani,”

tambahnya.

Di sisi lain, rapat evaluasi itu sendiri berjalan seperti biasa. Beberapa OPD dapat pujian karena program kerjanya sesuai target RPJMD. Tapi ya, enggak semua begitu. Masih ada beberapa yang dinilai lamban dan progresnya biasa-biasa saja, bahkan cenderung mengecewakan.

Soal kinerja ini, Ratu Dewa bicara blak-blakan. OPD yang dianggap nggak becus bekerja bakal dievaluasi ulang. Bahkan, kalau memang nggak ada perubahan, mereka diminta mundur saja.

“Kalau tidak bisa bekerja cepat dan tepat, akan dievaluasi,”

katanya tanpa basa-basi.

Reaksi para pejabat yang hadir? Beragam. Ada yang terlihat kaget, matanya melotok melihat kain kafan dibagikan. Tapi setelah jeda sejenak, beberapa justru mengangguk-angguk. Mereka mengapresiasi pesan moral yang coba disampaikan walikota, meski caranya memang bikin merinding.

Aksi simbolik itu, mau diapapun, telah meninggalkan kesan mendalam. Bukan sekadar rapat evaluasi biasa, melainkan sebuah refleksi tentang hidup, mati, dan tanggung jawab yang sering terlupa.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar