Fadli Zon pun menjawab. Ia mengakui bahwa nama SIS Aljufri memang masuk dalam daftar prioritas usulan tahun 2025. Namun begitu, ada kendala teknis yang tak bisa diabaikan. Pemerintah hanya bisa menetapkan sepuluh tokoh per tahunnya. “Prosesnya kompetitif,” kira-kira begitu.
“Nama Guru Tua masuk dalam prioritas pahlawan nasional. Hanya saja jumlahnya dibatasi sepuluh nama, dan saya termasuk salah satu yang mengusulkan,” jelas Fadli di hadapan para pimpinan Alkhairaat.
Di sisi lain, perkembangan Alkhairaat sendiri ternyata cukup pesat. Ketua Umum PB Alkhairaat, HS Mohsen Alaydrus, memaparkan fakta ini. Jaringan madrasah dan pesantrennya tak lagi hanya mengakar di Timur Indonesia. Kini sudah merambah hingga ke Jakarta dan beberapa daerah di Pulau Jawa.
Sebelum kunjungan berakhir, ada tradisi saling menghormati yang dilakukan. Pihak Alkhairaat memberikan cenderamata berupa plakat bergambar lambang organisasi, plus dua buku karya Abdul Karim DL. Fadli Zon tak datang dengan tangan kosong. Ia membalas dengan menyerahkan dua buku karyanya sendiri kepada Ketua Utama Alkhairaat.
Pertemuan itu pun ditutup. Agendanya mungkin resmi, tetapi nuansa penghormatan terhadap sejarah dan jasa seorang ulama terasa sangat kental sepanjang hari.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Tegaskan Anggaran Sewa Helikopter Rp 2 Miliar Belum Direalisasi
Arus Balik Lebaran 2026 Resmi Berakhir, 3,38 Juta Kendaraan Masuk Jabotabek
Kebocoran Diduga Picu Ledakan dan Kebakaran di SPBE Cimuning Bekasi
Aturan Larangan Ponsel di Sekolah Makassar Picu Pro-Kontra di Kalangan Siswa