Merespons permintaan dari pimpinan Yaman, koalisi akhirnya bertindak. "Angkatan udara koalisi melakukan operasi presisi yang terbatas," jelasnya. Serangan itu menargetkan senjata dan kendaraan yang sudah berada di darat. Al-Maliki menekankan operasi dilaksanakan sesuai hukum humaniter internasional, dengan upaya meminimalisir kerusakan sampingan. Untungnya, tidak ada korban jiwa atau kerusakan infrastruktur pelabuhan yang dilaporkan.
Kemlu Arab Saudi juga tak ketinggalan. Mereka mengeluarkan pernyataan terbuka yang menyiratkan kekecewaan mendalam atas langkah negara tetangganya itu.
Bantahan dari Abu Dhabi
Beberapa jam setelah serangan, pihak UEA membalas. Kementerian Luar Negeri mereka membantah mengirimkan senjata, meski mengakui pengiriman kendaraan untuk pasukan mereka sendiri di lapangan. Bantahan yang justru mengukuhkan bahwa memang ada kiriman dari mereka.
Keprihatinan Indonesia
Di tengah gejolak ini, Indonesia turut bersuara. Sejak 27 Desember, melalui Kemlu, pemerintah telah menyoroti situasi di Hadramaut dan Al-Mahra. Kepentingannya jelas: stabilitas di Hadramaut, wilayah penghasil minyak terbesar di Yaman, sangat krusial.
Terutama karena Kota Tarim di sana menjadi pusat pendidikan agama bagi ribuan pelajar Indonesia. Keamanan mereka jadi perhatian utama.
"Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, menghentikan eskalasi, serta menghindari tindakan sepihak yang dapat mengganggu stabilitas," imbau pemerintah.
Seruan yang terdengar lirih di tengah gemuruh mesin perang, namun mencerminkan kepentingan nyata yang harus dijaga.
Artikel Terkait
Dua Pelaku Penganiayaan Siswi di Luwu Utara Malah Berjoget di Kantor Polisi
Pemerintah Tetapkan WFH Setiap Jumat Mulai 2026 untuk Tekan Konsumsi Energi
Korban Serangan Air Keras Andrie Yunus Kirim Pesan Semangat dari Ruang HCU
Anggota DPR Desak Pemerintah Antisipasi Dampak Lonjakan Harga Avtur pada Tiket Pesawat