✍🏻 Suhair Nafal (Warga AS keturunan Palestina)
Sudah dua tahun ini, survei demi survei menempatkan Israel di posisi terbawah opini publik global. Bukan sekadar opini, tapi data yang tercatat. Negara itu kini dianggap sebagai salah satu yang paling dibenci di dunia.
Namun begitu, Amerika Serikat justru menggelar karpet merah.
Benjamin Netanyahu, yang namanya dikaitkan dengan surat perintah penangkapan dari Mahkamah Internasional, tetap disambut bak bangsawan. Beberapa kali dalam setahun ia dijamu. Saat ini, misalnya, ia sedang berada di Mar-a-Lago.
Orang yang sama ini pernah disambut di Gedung Putih tempat yang mestinya melambangkan martabat. Sayangnya, pada satu momen, tempat itu malah jadi latar belakang untuk pakaian kotornya. Sungguh ironis.
Memalukan. Bahkan lebih dari itu: keji.
Menjijikkan. Ada pepatah mengatakan, kamu dikenal dari teman-temanmu. Dan dengan terus berdiri bahu-membahu bersama pemerintah yang dituduh melakukan kejahatan perang, apartheid, bahkan pembantaian massal, posisi moral Amerika sendiri runtuh di mata dunia.
Dunia menyaksikan. Semua ini tak luput dari perhatian.
Reputasi Amerika, hari demi hari, terus merosot karena pilihan aliansinya ini. Sejarah nanti, saya yakin, tidak akan berbaik hati menilainya.
(fb)
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 2,4 Guncang Cirebon, BMKG: Tak Berpotensi Kerusakan
560 Narapidana Lansia Terima Remisi Hingga Enam Bulan di Hari Lanjut Usia Nasional 2026
Polda Jateng Bekuk 105 Pelaku Kejahatan Jalanan Sepanjang Mei 2026
Peserta Paskibraka Sulsel yang Terseret Polemik Seleksi Dapat Beasiswa Penuh Kuliah di Luar Negeri