Polri Garap Ribuan Sumur Bor untuk Atasi Krisis Air Pascabencana

- Selasa, 30 Desember 2025 | 13:18 WIB
Polri Garap Ribuan Sumur Bor untuk Atasi Krisis Air Pascabencana

Ribuan kejadian bencana tercatat sepanjang 2025. Tanah longsor dan angin puting beliung mendominasi, meninggalkan jejak kerusakan yang dalam di sejumlah wilayah. Di balik angka-angka itu, ada satu persoalan mendesak yang terus menghantui masyarakat pascabencana: akses untuk mendapatkan air bersih.

Hal inilah yang menjadi perhatian utama Polri dalam fase pemulihan. Komjen Fadil Imran, Asisten Utama Operasi Polri, menekankan hal tersebut dalam paparan rilis akhir tahun di Jakarta, Selasa lalu.

“Masalah utama pascabencana adalah air,” ujarnya tegas.

“Polri telah membangun ribuan sumur bor dan menyediakan ratusan tangki air bersih di berbagai titik terdampak untuk menjamin sanitasi warga.”

Menurut Fadil, upaya ini bukan sekadar bagian dari tanggap darurat, melainkan komitmen jangka panjang. Polri, katanya, bertekad hadir hingga tahap pemulihan benar-benar tuntas. Bantuan tak cuma berupa personel, tapi juga solusi konkret di lapangan.

“Saat bencana melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar di akhir tahun ini, Polri tidak hanya datang dengan pasukan, tapi juga dengan solusi,” jelas Fadil.

“Kami mengerahkan alat berat, menyalurkan puluhan ton sembako, hingga membangun ratusan sumur bor untuk menjamin akses air bersih bagi pengungsi.”

Dampak bencana terlihat nyata di tiga provinsi itu. Di Aceh, 18 kota dan kabupaten terdampak, dengan ratusan ribu rumah rusak dan warga mengungsi. Respons Polri di sana cukup masif: lebih dari 11 ribu personel gabungan diterjunkan, bantuan kemanusiaan mencapai 2.300 ton lebih, dan 261 sumur bor dibangun untuk mengatasi krisis air.

Sementara di Sumatera Utara, kerusakan melanda 19 wilayah. Fokus penanganan di sini sedikit berbeda, lebih diarahkan pada rehabilitasi fasilitas publik yang rusak, seperti pusat kesehatan, sekolah, dan tempat ibadah. Personel yang dikerahkan sekitar 2.550 orang dengan bantuan logistik mencapai 1.236 ton.

Adapun di Sumatera Barat, selain bantuan logistik hampir 900 ton, Polri mengirimkan alat berat dan ribuan personel untuk mempercepat pemulihan di 16 kota dan kabupaten yang terdampak.

“Secara total, ada sekitar 6.000-an ton bantuan kemanusiaan yang kami distribusikan ke tiga wilayah terdampak bencana di Sumatera,” ujar Fadil.

Namun begitu, bantuan tak berhenti pada sembako dan air bersih. Layanan kesehatan jadi prioritas lain. Lebih dari seribu personel tenaga kesehatan dan tim DVI bekerja, didukung puluhan unit ambulans yang berjaga. Hampir 38 ribu warga di posko-posko pengungsian telah mendapat pelayanan medis gratis.

Inovasi teknologi juga dimanfaatkan. Untuk menjangkau daerah terisolasi, Polri menyebar 86 unit Starlink. Sebanyak 36 titik di antaranya ada di Aceh.

“Di lokasi yang terisolasi, komunikasi sangat krusial,” jelas Fadil mengenai langkah ini.

“Agar masyarakat bisa tetap terhubung dengan keluarga serta membantu memonitor kebutuhan dari waktu ke waktu secara presisi. Teknologi kami gunakan sepenuhnya untuk kemanusiaan.”

Dukungan lain terus mengalir. Puluhan kendaraan dapur lapangan dikerahkan untuk menyediakan makanan hangat setiap hari. Tak lupa, pasukan siaga bencana dari Brimob juga ditambah untuk memperkuat pengamanan dan proses evakuasi di titik-titik krisis. Semua upaya ini, pada akhirnya, bertujuan mengembalikan sedikit rasa normalitas bagi mereka yang kehilangan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar