Paus Leo XIV Sorot Gaza dalam Pesan Natal Perdananya: Bagaimana Kita Bisa Lupakan Tenda-Tenda Itu?

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 18:00 WIB
Paus Leo XIV Sorot Gaza dalam Pesan Natal Perdananya: Bagaimana Kita Bisa Lupakan Tenda-Tenda Itu?

✍🏻 Ismail Amin

Natal seharusnya tentang damai dan belas kasih, ya kan? Tapi buat sebagian orang Kristen yang getol mendukung apa yang terjadi di Gaza, atau malah sinis melihat aksi solidaritas, pesan Paus tahun ini mungkin agak sulit dicerna. Atau jangan-jangan, sengaja diabaikan?

Di tengah hiasan gemerlap Basilika Santo Petrus, Paus Leo XIV justru mengarahkan perhatian dunia ke tempat yang jauh dari sukacita. Dalam pesan dan doa Natal perdananya, ia menyebutkan dingin yang menggigit dan kondisi mengerikan di tenda-tenda pengungsian.

“Bagaimana mungkin kita tak memikirkan tenda-tenda Gaza di tengah dingin ini?” tanyanya. Suaranya, seperti dilaporkan banyak media, terdengar berat.

“Ketika Sabda telah menjadi daging, kini kemanusiaan berseru dengan kerinduan ilahi untuk berjumpa dengan kita. Sabda itu telah mendirikan kemah yang rapuh dan lembut di tengah-tengah kita. Maka bagaimana mungkin kita tidak mengingat tenda-tenda Gaza tenda-tenda yang selama berminggu-minggu terpapar hujan, angin, dan dingin yang menyengat?”

Pertanyaan retoris itu menggantung. Maknanya jelas: inti Natal adalah solidaritas dengan yang menderita. Lalu, paham nda dengan pesan itu?

Ini yang menarik. Bagi yang lupa, atau mungkin enggan mengingat, Yesus Kristus lahir di tanah Palestina. Coba bayangkan jika Ia hidup hari ini. Menurut kalian, di mana Dia akan berada? Apakah di tengah ribuan keluarga Gaza yang kedinginan dan kelaparan di kemah-kemah darurat? Atau justru duduk rapi di ruang komando bersama Netanyahu?

Pertanyaan itu bukan cuma retorika kosong. Di luar sana, banyak orang yang merasakan hal serupa. Sebuah unggahan di media sosial menggambarkannya dengan gamblang: jika Maria dan Yusuf berangkat ke Betlehem hari ini, perjalanan mereka akan terhalang 15 pos pemeriksaan Israel dan tembok setinggi 30 kaki. Gambar itu beredar luas, disertai komentar-komentar pedas.

Unggahan lain hanya menambahkan, “Ini benar-benar terjadi,” seolah mengonfirmasi betapa absurdnya situasi sekarang jika dibandingkan dengan kisah Natal yang sejati.

Bahkan di Times Square, New York, nuansa protes itu muncul. Sebuah billboard raksasa memajang pesan Natal yang menyentil hati nurani, mengingatkan semua orang tentang konteks kelahiran Yesus yang sesungguhnya. Foto billboard itu pun viral, memicu perdebatan dan mudah-mudahan sedikit perenungan.

Jadi, di hari yang seharusnya penuh kasih ini, pesannya sederhana: di mana posisi kita? Berdiri di sisi tenda yang bocor, atau berpaling dari jeritannya?

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar