Bambu atau Beton: Pilihan yang Menguji Makna Rumah Ibadah di Desa

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 13:25 WIB
Bambu atau Beton: Pilihan yang Menguji Makna Rumah Ibadah di Desa

Pilihan antara masjid bambu dan masjid beton sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar memilih bahan bangunan. Ini soal cara sebuah komunitas, terutama di desa, memahami makna ibadah, waktu, dan sumber daya yang mereka miliki. Beton sering diidentikkan dengan kemegahan yang mahal dan kaku. Sementara itu, bambu menghadirkan kesederhanaan yang lentur dan jauh lebih terjangkau.

Merenung di Tengah Reruntuhan

Belakangan, kita terus disambangi berita pilu. Masjid dan rumah ibadah lainnya roboh diterjang banjir dan longsor.

Bencana yang makin sering ini jelas mengganggu kekhusyukan ibadah. Tapi dampaknya lebih dari itu. Kerugian materialnya bisa sangat besar, dan itu memunculkan tanda tanya besar tentang ketangguhan bangunan tempat kita bersujud. Dalam situasi rentan seperti inilah, wacana soal filosofi dan material pembangunan rumah ibadah yang adaptif jadi terasa mendesak.

Artikel ini mencoba membandingkan dua pendekatan itu: masjid bambu versus masjid beton. Bukan cuma urusan angka dan biaya, tapi kita diajak merenung ulang. Apa sih sebenarnya arti "kemegahan" dan "keberlanjutan" dalam membangun rumah Tuhan? Pertanyaan ini penting, terutama untuk desa-desa yang akrab dengan ancaman alam.

Dilema Awal: "Kepantasan" yang Dibetonkan

Di banyak pelosok negeri ini, rencana bangun masjid biasanya diawali pertanyaan klasik. Cukupkah dana untuk bikin yang "pantas"? Nah, kata "pantas" itu lantas diterjemahkan secara seragam: beton bertulang, kubah besar, menara menjulang. Gagasan tentang masjid bambu seperti yang ada di Assam, India, atau beberapa daerah di Indonesia langsung tersingkir. Dianggap sementara, murahan, dan kurang representatif.

Padahal, kalau kita lihat dari kacamata biaya dan daya tahan fungsional, logika di balik masjid bambu justru sangat rasional. Sayangnya, ini sering kali kalah oleh persepsi.

Kontras Anggaran: Miliaran vs Jutaan

Angkanya memang jauh berbeda. Data dari Kementerian PUPR dan sejumlah pemda menunjukkan, biaya bangun masjid beton skala desa (luas 150–250 meter persegi) bisa berkisar dari Rp600 juta sampai Rp1,5 miliar. Itu sudah termasuk struktur beton, dinding bata, kubah, keramik, plus listrik dan sanitasi standar. Di beberapa tempat, biaya bisa membengkak lagi gara-gara desain kubah dan ornamen yang dianggap perlu.

Di sisi lain, skema pembangunan masjid bambu benar-benar lain. Berdasarkan laporan BNPB, UNDP Indonesia, dan beberapa kajian dari ITB pascagempa Lombok 2018, biayanya cuma sekitar Rp80 juta sampai Rp300 juta. Tergantung luas, jenis bambu, dan finishing-nya. Perbedaan mencolok ini juga terlihat pada durasi pengerjaan dan pola perawatannya nanti.

Filosofi dan Daya Tahan: Permanen vs Adaptif

Perbedaannya nggak cuma di angka. Filosofi di baliknya juga beda banget. Masjid beton dirancang untuk bertahan lama, tanpa banyak perubahan. Konsepnya permanen. Masjid bambu justru dirancang dengan prinsip adaptif; ia butuh perawatan dan pembaruan bertahap.

Riset ITB tentang material alternatif menyebut, bambu petung yang sudah diawetkan bisa bertahan 25–30 tahun sebagai struktur utama. Dengan perawatan rutin, umurnya bisa lebih panjang lagi.

Soal biaya perawatan, masjid beton bisa menghabiskan Rp15–30 juta per tahun untuk perbaikan keramik, kebocoran, atau masalah struktur. Untuk masjid bambu, dengan material lokal dan perbaikan swadaya, biayanya jauh lebih ringan. Apalagi ketika menghadapi bencana, masjid bambu punya fleksibilitas lebih baik. Pemulihannya lebih mudah ketimbang struktur beton berat yang sekali rusak, parah akibatnya.

Melampaui Angka: Prestise, Tradisi, dan Etika Lingkungan

Tapi ya itu, angka-angka tadi jarang jadi pertimbangan utama. Dalam banyak kasus, keputusan memilih beton lebih didorong faktor simbolik. Masjid dianggap sebagai penanda prestise sosial desa. Semakin besar dan permanen, semakin dianggap sukses. Masjid bambu? Ia kalah sejak awal karena dikait-kaitkan dengan kemiskinan atau kondisi darurat.

Padahal, laporan World Green Building Council mengungkap fakta lain. Beton menyumbang sekitar 8% emisi karbon global. Sementara bambu justru menyerap karbon selama masa tumbuhnya. Jadi, pilihan material ini sebenarnya juga soal etika lingkungan. Kita sebenarnya punya tradisi bagus dalam hal ini. Dulu, masjid-masjid kayu dan bambu adalah arus utama Islam Nusantara.

Penutup: Makna di Balik Material

Jadi, pilihan antara bambu dan beton pada akhirnya memang bukan sekadar material. Ia mencerminkan cara sebuah desa memaknai ibadah, waktu, dan sumber dayanya. Beton menawarkan kemegahan yang mahal dan kaku. Bambu menawarkan kesederhanaan yang lentur dan terjangkau.

Di tengah keterbatasan anggaran desa dan ancaman bencana yang nyata, pertanyaannya bisa kita sederhanakan: apakah rumah ibadah harus mahal agar bermakna? Masjid bambu memberikan jawaban yang tenang. Cukup layak, cukup kuat, dan yang penting, dekat dengan realitas warganya.

Muhibbullah Azfa Manik

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar