Seorang mahasiswa berusia 23 tahun kini berstatus tersangka. Hylmi Rafif Rabbi, yang menempuh studi di Jurusan Teknik Informatika Universitas Binus, diduga kuat berada di balik teror ancaman bom yang mengguncang sepuluh sekolah di Depok, Jawa Barat.
Aksi teror itu dilakukan lewat surel. Isinya tak main-main: ancaman pengeboman, penculikan, bahkan rencana pembunuhan dan penyebaran narkoba. Sepuluh institusi pendidikan menjadi sasarannya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Depok, Kompol Made Oka, mengonfirmasi penahanan pelaku. "Kami melakukan proses penyelidikan secara tegas dan kemudian juga kita melakukan proses penahanan," ujarnya dalam jumpa pers di Polres Depok, Jumat (26/12).
Akibat ulahnya, Hylmi kini menghadapi tuntutan pasal berlapis. Hukumannya bisa sangat berat.
Pertama, dia dijerat Pasal 45B Jo Pasal 29 UU ITE dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara dan denda hingga Rp 750 juta. Lalu ada Pasal 335 KUHP yang ancamannya 1 tahun. Tak cukup sampai di situ, Pasal 336 ayat 2 KUHP juga menjeratnya dengan ancaman 2 tahun 8 bulan penjara.
Lantas, apa motif di balik semua ini? Ternyata, urusan hati. Menurut penyidik, Hylmi nekat meneror karena sakit hati setelah hubungannya dengan seorang perempuan bernama Kamila putus di tengah jalan.
Yang lebih parah, dia menggunakan akun surel Kamila untuk mengirim ancaman-ancaman itu. Dia pun berpura-pura menjadi Kamila. Salah satu sekolah yang jadi target adalah almamater Kamila dulu.
"Motif dari tersangka untuk melakukan penteroran ataupun tindak pidana ini adalah tersangka merasa kecewa karena memang yang bersangkutan sempat berpacaran, yaitu Saudara H dan Saudari Kamila ini sempat berpacaran di tahun 2022," jelas Kompol Made Oka.
Ceritanya tak berhenti di situ. Rupanya, lamaran Hylmi kepada Kamila pun ditolak mentah-mentah oleh keluarga perempuan itu.
"Kemudian sempat juga keluarga besar dari Saudara H melamar tapi ditolak karena memang Saudara H sering melakukan teror kepada atau pun pengancaman, bukan hanya ke yang bersangkutan atau Saudari Kamila, tapi sampai juga kita mendapatkan bukti bahwa menteror ke kampus tempat Saudari Kamila berkuliah," tambah Made.
Jadi, ini bukan sekadar aksi spontan akibat patah hati. Polisi melihat ada pola pengancaman yang sudah berlangsung sebelumnya, yang akhirnya memuncak pada teror massal ke sekolah-sekolah itu.
Artikel Terkait
Michael Carrick Ubah Manchester United Jadi Ancaman Nyata di Liga Inggris
Gadis 6 Tahun WNI Tewas Tertabrak Mobil di Chinatown Singapura
PKL Makassar Cat Lapak Kuning, Pemkot Tegaskan Itu Tetap Pelanggaran
Megawati Terima Doktor Kehormatan di Arab Saudi, Tekankan Pemberdayaan Perempuan Kunci Kemajuan Negara