Kalimat blak-blakan dari anak seorang menteri keuangan, Yudo Sadewa, sempat menggegerkan jagat maya. Dalam sebuah live streaming bersama YouTuber Bigmo, dia tak sungkan menyoroti mental para pejabat di negeri ini. Kritiknya pedas dan langsung ke sasaran.
"Hampir semua pejabat korupsi, hampir. 80 persen pejabat itu pasti korupsi. Maling semua itu di sini tuh," ucap Yudo, Selasa lalu.
Nah, yang bikin riuh makin menjadi adalah respons dari sosok yang pernah merasakan langsung duduk di kabinet. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, justru mengamini. Bahkan, menurutnya, angkanya mungkin lebih dari itu.
"Bener banget bahkan mungkin lebih," balas Susi lewat platform X, Rabu kemarin. Tak lupa dia menyelipkan emotikon tertawa di akhir tanggapannya, sebuah sentuhan yang terasa getir.
Ini bukan kali pertama Susi bersuara lantang soal praktik tak sedap di birokrasi. Sebelumnya, dia juga pernah menanggapi peringatan Presiden Prabowo Subianto agar anak buahnya jangan coba-coba mark up anggaran.
Susi lantas memberi gambaran yang cukup mencengangkan. Lewat cuitannya, dia menjelaskan bahwa mark up dalam pengadaan barang atau proyek pemerintah itu sudah seperti rahasia umum. Minimal 50 persen!
"Pak Presiden @prabowo pasti tahu hampir semua Pengadaan pemerintah (apapun barang maupun proyek) mark up nya minimal 50 persen bahkan katanya 10 tahun terakhir mulai barang yang sebenarnya hanya 10 persen saja," tuturnya.
Bayangkan. Anggaran digelembungkan sedemikian rupa, sementara barang yang diterima bisa jadi cuma sepersepuluh dari nilai yang tercatat. Praktik seperti inilah yang menurut Susi membuktikan bahwa mental "maling" itu nyata adanya di kalangan pejabat.
Di sisi lain, banyak netizen yang justru sepakat dengan ucapan Susi. Bukan tanpa alasan. Mereka meyakini, ketidakmunculan kembali Susi di kabinet periode kedua Jokowi justru karena kejujurannya. Sosoknya dianggap tak sejalan dengan sistem yang sudah terlanjur "biasa".
Perlu diingat, Susi pernah menjabat sebagai menteri dari 2014 hingga 2019. Selama lima tahun itu, kebijakannya yang tegas dan berpihak pada nelayan kecil banyak mendapat apresiasi. Tapi, di periode berikutnya, namanya menghilang dari daftar menteri.
Kini, dari luar pemerintahan, suaranya tetap keras. Dan pernyataan dukungannya pada kritik Yudo Sadewa itu seperti membuka kembali luka lama. Sebuah pengakuan pilu dari orang dalam, bahwa masalah korupsi dan mental koruptif di tubuh birokrasi kita mungkin lebih parah dari yang kita duga.
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Liverpool 2-1 Berkat Gol Telat Haaland
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick
Moodys Tegaskan Peringkat Baa2 Indonesia, Pemerhatan Soroti Ketahanan Ekonomi
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN