Seribu Lebih Nyawa Melayang, Status Bencana Nasional Masih Digantung

- Rabu, 24 Desember 2025 | 17:25 WIB
Seribu Lebih Nyawa Melayang, Status Bencana Nasional Masih Digantung

Bencana Nasional, Bagaimana Riwayatmu Kini?

Oleh: Tardjono Abu Muas
Pemerhati Masalah Sosial

Sudah genap sebulan berlalu. Tepatnya, pekan keempat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Angka korban jiwa, terhitung hingga Selasa lalu, menyentuh 1.112 orang. Bukan lagi ratusan, tapi sudah melampaui seribu nyawa.

Ini bukan sekadar deretan statistik di atas kertas. Setiap angka mewakili seorang manusia. Kisah yang terputus. Dan seharusnya, keselamatan jiwa adalah prioritas mutlak ketika bencana menerjang.

Di tengah situasi suram ini, ada secercah terang. Perlu diacungi jempol, kerja keras semua pihak yang turun membantu atas nama kemanusiaan semata. Media arus utama dan juga warganet lewat jagat maya, mereka semua punya andil. Mereka menyiarkan kabar, gambaran nyata dari lapangan, tentang kondisi yang masih carut-marut setelah nyaris empat pekan.

Namun begitu, keadaan di lapangan masih jauh dari kata aman. Bahkan, mengkhawatirkan. Beberapa daerah masih terisolasi, terputus dari dunia luar. Hal ini, tentu saja, menyulitkan upaya evakuasi. Distribusi bantuan logistik pun terhambat.

Yang jadi pertanyaan besar: mengapa pemerintah pusat masih ragu? Hingga detik ini, status bencana nasional untuk ketiga provinsi itu belum juga ditetapkan. Padahal, penetapan status itu bukan sekadar formalitas. Ia seperti tombol darurat yang bisa membuka akses bantuan internasional, mempercepat rehabilitasi, dan membangun kembali apa yang telah hancur.

Tanpa status itu, semuanya terasa berjalan di tempat. Lalu, apa yang harus dinanti? Apakah kita akan berdiam saja, membiarkan angka kematian terus merangkak naik, sementara ancaman kelaparan mengintai para penyintas?

Bencana Nasional, Bagaimana Riwayatmu Kini?

Sementara itu, di lokasi bencana, warga hanya bisa menunggu. Menunggu dengan rasa was-was, di tengah janji pemerintah yang mengklaim mampu menangani semua ini. Ketidakpastian itu yang kini menjadi musuh bersama.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar