Melalui lisan Rasulullah Saw., Allah SWT memberi tahu kita tentang ciri orang yang cerdas. Bukan yang punya IQ tinggi atau titel akademik segudang. Tapi, orang yang paling sering mengingat mati. Dan karena ingat itu, dia sibuk mempersiapkan bekal.
Kenapa? Orang yang cerdas paham betul. Hidup setelah kematian itulah kehidupan yang sebenarnya. Sebuah kehidupan abadi. Dan untuk hidup yang abadi, tentu butuh bekal yang juga abadi. Bekal itu adalah amal saleh yang kita kumpulkan sekarang, di dunia ini. Bukan nanti saat kita sudah dibangkitkan kembali.
Nah, akhirat itu tempat kita memetik hasil. Hasil dari apa? Dari perjuangan kita beramal saleh selama di dunia. Amal-amal baik itulah yang akan berubah menjadi bekal abadi kita di sana.
Lalu, amal saleh seperti apa? Ini bukan sekadar perbuatan baik secara umum. Amal saleh punya dua syarat utama. Pertama, niatnya harus ikhlas, hanya karena Allah SWT. Kedua, caranya harus benar, mengikuti contoh yang diajarkan Rasulullah Saw. Jadi, ada pakemnya. Bukan asal-asalan.
Maka, manusia cerdas itu ya manusia yang hidupnya dipenuhi dengan amal saleh. Dia semangat menjalankan syariat Islam secara menyeluruh. Shalat, puasa, zakat, sampai haji. Juga menuntut ilmu, berdakwah, bahkan berjihad di jalan Allah. Semua dilakukannya dengan senang hati, semata-mata untuk meraih ridha-Nya.
Intinya, orang cerdas adalah orang yang menemukan jati dirinya. Dia sadar bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah. Dan sebagai makhluk, sudah seharusnya dia tunduk dan patuh pada Sang Pencipta.
Orang cerdas itu orang yang beriman kepada Allah SWT dengan penerimaan total. Menerima seluruh syariat-Nya tanpa banyak "nanti" dan "tapi". Dia rela diatur hidupnya oleh hukum Islam yang kaffah. Dia juga mampu menundukkan hawa nafsunya, demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan semua itu, barulah dia bisa mempersiapkan bekal dengan benar. Bekal untuk kehidupan abadi di akhirat nanti.
Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam sebuah hadits:
“Dari Ibnu Umar berkata: dahulu aku sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datanglah kepada beliau seorang lelaki dari kaum Anshar... Lalu lelaki itu bertanya lagi: siapakah di antara orang-orang beriman yang paling cerdas? Beliau menjawab: yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya menyambut kematian, mereka itulah orang-orang yang cerdas.” [HR. Ibnu Majah].
Dalam riwayat lain, sabda beliau juga menggambarkan hal serupa:
“Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jadi, jelas ya. Kecerdasan sejati bukan diukur dari gelar akademik. Bukan. Bisa saja seseorang punya sederet gelar, tapi hatinya kosong dari iman, dan enggan tunduk pada syariat Islam. Itu bukan kecerdasan.
Orang cerdas justru adalah mereka yang menggunakan akalnya untuk sampai pada satu titik: keimanan kepada Allah SWT. Akal sehatnya membimbingnya untuk mengenal Sang Khaliq, Sang Pengatur alam semesta. Melalui pengamatan, penelitian, dan perenungan mendalam terhadap keteraturan alam, dia sampai pada kesimpulan bahwa semua ini pasti ada Penciptanya. Yaitu Allah SWT yang Maha Esa.
Dari situ, dia sadar posisinya. Bahwa dirinya adalah makhluk. Dan sudah menjadi konsekuensi logis, makhluk harus tunduk pada aturan Penciptanya. Itulah kecerdasan yang sesungguhnya. Kecerdasan yang membawa pada iman, yang mampu mengendalikan nafsu, dan yang mendorong untuk taat menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya.
Sementara gelar akademik? Itu hanya aksesori. Hiasan. Tidak menjamin apa-apa tentang hakikat kecerdasan seseorang.
Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orang yang cerdas? Upayanya sederhana tapi butuh konsistensi. Perbanyaklah bekal. Kumpulkan amal saleh sebanyak-banyaknya. Dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan dalam hal sekecil membuang duri dari jalanan, jika diniatkan karena Allah, itu adalah bekal.
Maka, berbahagialah orang-orang yang termasuk dalam golongan ini. Orang-orang yang selalu mengingat mati, lalu terdorong untuk beramal saleh. Mereka sedang menyiapkan bekal terbaik untuk perjalanan panjang nan abadi. Wallahu’alam.
Ayu Mela Yulianti, S.Pt., Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik
Artikel Terkait
Ketua Komisi III DPR Desak Penanganan Adil Kasus Pembunuhan Ayah di Pariaman
Akses Jalan Utama di Aceh Pulih Bertahap Pasca Bencana 2025
Kemen HAM Soroti Gangguan Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal Akibat Nonaktif BPJS
Banjir di Kendal Mulai Surut, 1.300 Rumah Terdampak