Bali Sepi di Libur Nataru, Suara Warga Menguak Penyebabnya
Bali yang biasanya memecah kesunyian fajar dengan riuh turis, kali ini terasa berbeda. Di penghujung 2025, Pulau Dewata justru diselimuti keheningan yang tak biasa. Kabar tentang sepinya destinasi super prioritas ini ramai beredar di media sosial, dan rupanya, kondisi itu bukan sekadar omongan belaka.
Warga lokal pun membenarkannya. Caren Nichole, seorang penduduk yang sudah enam tahun menetap di kawasan Tanah Lot, merasakan betul suasana lengang itu.
“Kalau menurut aku, untuk sekarang ini Bali memang sepi ya dibandingkan dengan tahun 2024 dan juga tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Senin (22/12).
Yang mengejutkan, menurut Caren, situasi saat ini bahkan lebih sepi ketimbang masa-masa pandemi Covid-19 melanda. Padahal, waktu itu pembatasan masih ketat.
“Bahkan pas era Covid-19 aja di sini kayaknya pas tahun baru masih rame gitu. Pas Natal juga rame di sini, sekarang sepi banget,” tambahnya.
Lantas, apa yang terjadi? Banyak yang menyoroti isu diskriminasi terhadap wisatawan lokal sebagai biang keladinya. Caren mengaku secara pribadi tak pernah mengalaminya, karena penampilannya yang ‘mixed’ sering disangka turis asing. Namun, ia tak menampik realita itu.
“Tetapi kalau teman-temanku yang penampilannya memang lokal iya pernah,” tuturnya.
Namun begitu, ia melihat ada angin perubahan. Karena isu tersebut sudah viral, para pelaku pariwisata di Bali mulai menunjukkan perbaikan. “Sudah mau mulai berubah,” pungkas Caren.
Di sisi lain, keluhan serupa terus bermunculan dari para pelancong domestik. Seorang travel enthusiast yang kerap ke Bali mengaku kini lebih memilih Bangkok. Alasannya sederhana: kota itu terasa lebih siap, lebih ramah untuk semua kalangan.
“Kota nya bersih, tertib dan teratur,” katanya, membandingkan. Bahkan, sebagai seorang Katolik, ia menyoroti bagaimana Bangkok sangat mendukung wisata halal. Makanan halal mudah ditemui, tempat ibadah terjangkau. Hal-hal kecil yang justru berdampak besar bagi kenyamanan berwisata.
Persoalannya memang kompleks. Selain soal pelayanan, isu kepemilikan properti oleh orang asing juga ikut disinggung. Mereka membuka usaha serupa, lalu menarik wisatawan sebangsanya. Alhasil, pasar untuk warga lokal pun tergerus.
Ditambah lagi, pesaing regional seperti Vietnam kini semakin agresif, bahkan disebut-sebut merebut posisi wisata alam terindah se-Asia. Tekanan datang dari segala penjuru.
Jadi, apakah Bali sedang kehilangan pesonanya? Mungkin belum. Tapi sinyal ini jelas sebuah peringatan keras. Bali harus berbenah, dan cepat. Sebelum kesunyian ini bukan lagi sekadar fenomena musiman, melainkan kenyataan pahit yang permanen.
Artikel Terkait
Islah Bahrawi Tolak Wacana Polri Dibawah Kementerian, Desak Tetap di Bawah Presiden
Pandji Pragiwaksono Jalani Klarifikasi di Polda Metro Terkait Laporan Penistaan Agama
Relawan Peringatkan Love Scam Kini Incar Anak SD dan Perempuan Berpendidikan
Muzani Serukan Dukungan Dua Periode untuk Presiden Prabowo di HUT Gerindra