Senin (22/12) lalu, Desa Kota Lintang Bawah di Kabupaten Aceh Tamiang masih berusaha bangkit. Bekas banjir bandang menyisakan lumpur dan kehancuran yang memilukan. Ratusan keluarga, tak terkecuali anak-anak, terpaksa mengungsi dan bertahan di tenda-tenda darurat. Rumah mereka rusak, bahkan ada yang hanyut tak berbekas.
Namun begitu, di tengah keprihatinan itu, ada secercah keceriaan yang muncul. Ya, dari anak-anak. Mereka ternyata punya cara sendiri untuk menghadapi situasi sulit ini. Bermain.
Fauzan yang baru berusia 9 tahun itu, bersama beberapa kawannya, asyik berkutat di lapangan sekolah yang masih becek. Dengan bahan seadanya kayu bekas, puing atap seng mereka menyusun sebuah ‘rumah-rumahan’. Konsentrasi mereka penuh. Sejenak, mungkin, imajinasi mereka membawa mereka jauh dari realitas pengungsian yang serba terbatas.
Artikel Terkait
Bripka Septian Gugur Saat Amankan Mudik di Pekalongan
Kemenhub Imbau Pemudik Manfaatkan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret
Anggota DPR Tolak Wacana Sekolah Daring Mulai 2026, Ingatkan Trauma Learning Loss
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal