Senin (22/12) lalu, Desa Kota Lintang Bawah di Kabupaten Aceh Tamiang masih berusaha bangkit. Bekas banjir bandang menyisakan lumpur dan kehancuran yang memilukan. Ratusan keluarga, tak terkecuali anak-anak, terpaksa mengungsi dan bertahan di tenda-tenda darurat. Rumah mereka rusak, bahkan ada yang hanyut tak berbekas.
Namun begitu, di tengah keprihatinan itu, ada secercah keceriaan yang muncul. Ya, dari anak-anak. Mereka ternyata punya cara sendiri untuk menghadapi situasi sulit ini. Bermain.
Fauzan yang baru berusia 9 tahun itu, bersama beberapa kawannya, asyik berkutat di lapangan sekolah yang masih becek. Dengan bahan seadanya kayu bekas, puing atap seng mereka menyusun sebuah ‘rumah-rumahan’. Konsentrasi mereka penuh. Sejenak, mungkin, imajinasi mereka membawa mereka jauh dari realitas pengungsian yang serba terbatas.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu