Diskusi Buku Reset Indonesia di Madiun Dibubarkan Paksa Aparat

- Minggu, 21 Desember 2025 | 09:50 WIB
Diskusi Buku Reset Indonesia di Madiun Dibubarkan Paksa Aparat

Diskusi Buku "Reset Indonesia" di Madiun Dibatalkan Paksa oleh Aparat

Rencana diskusi buku "Reset Indonesia" di Desa Gunungsari, Madiun, akhirnya gagal total. Acara yang dijadwalkan berlangsung Sabtu lalu, 20 Desember 2025, itu terpaksa bubar sebelum benar-benar dimulai.

Beberapa komunitas lokal yang menjadi penyelenggara sudah menyiapkan segalanya. Bahkan, tim penulisnya hadir lengkap: Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu sudah siap berbincang dengan warga.

Namun begitu, suasana berubah tepat saat acara hendak dibuka. Camat, lurah, sekdes, bersama perwakilan Babinsa dan Polsek tiba-tiba muncul di lokasi. Mereka meminta agar diskusi dihentikan. Alasan yang dikemukakan sederhana: acara tersebut tidak memiliki izin.

Padahal, menurut panitia, surat pemberitahuan sudah mereka sampaikan sebelumnya ke Polsek Madiun. Tapi rupanya itu tidak cukup. Desakan dari aparat membuat panitia tak punya pilihan lain.

Ini adalah kali pertama perjalanan diskusi buku tersebut mendapat halangan seperti ini. Sebelumnya, tim "Reset Indonesia" sudah berkeliling ke sekitar 45 titik di berbagai kota tanpa masalah berarti. Pengalaman di Madiun ini benar-benar di luar dugaan.

Farid Gaban, salah satu penulis, menyatakan kekecewaannya.

"Kami hanya ingin berbagi gagasan. Dialog dengan masyarakat ini justru inti dari buku yang kami tulis," ujarnya.

Meski ada hambatan, perjalanan mereka terus berlanjut. Setelah Madiun, rencananya tim akan memenuhi undangan resmi Bupati Trenggalek pada tanggal 22 Desember. Mereka juga punya catatan bagus dari diskusi sebelumnya, seperti di Pendopo Wakil Bupati Banyumas awal Desember lalu, yang berjalan lancar atas undangan komunitas budaya Logawa.

Sejak diluncurkan Oktober lalu, "Reset Indonesia" telah memicu percakapan di banyak tempat. Ruang diskusinya beragam, mulai dari kampus, sekolah, hingga perkumpulan petani dan nelayan. Jejak mereka tersebar dari Jabodetabek, melintasi kota-kota di Jawa seperti Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, sampai ke Madiun.

Kejadian di Desa Gunungsari itu mungkin hanya sebuah titik. Tapi ia meninggalkan tanda tanya besar tentang ruang untuk berbicara.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar