Demokrasi di Ujung Tanduk: Kembalinya Siklus Korupsi Kepala Daerah

- Jumat, 19 Desember 2025 | 17:06 WIB
Demokrasi di Ujung Tanduk: Kembalinya Siklus Korupsi Kepala Daerah

Menjelang akhir tahun, demokrasi lokal kembali mendapat pukulan telak. Lagi-lagi. Publik dibuat terperangah oleh sederet nama pejabat daerah yang baru saja terpilih, namun sudah harus berurusan dengan KPK. Dalam rentang waktu singkat, empat kepala daerah terjaring operasi tangkap tangan: Bupati Kolaka Timur Abdul Azis, Gubernur Riau Abdul Wahid, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, dan Bupati Lampung Tengah Ardhito Wijaya. Tak ketinggalan, Kejaksaan juga menetapkan Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, sebagai tersangka.

Ini bukan cuma soal daftar nama. Ini adalah pola yang mengusik, sebuah rekaman rusak yang diputar berulang-ulang setiap periode pilkada usai. Pertanyaannya, mengapa sistem kita seperti terus memproduksi pemimpin yang jatuh ke lubang yang persis sama?

Biaya Politik Gila-Gilaan, Aturan yang Tak Berdaya

Aturan sebenarnya sudah ada. UU Pilkada mengatur soal batas dana kampanye, UU Pemerintahan Daerah memberi kerangka kerja. Tapi di lapangan, ceritanya lain sama sekali. Biaya politik melambung tinggi, sementara pengawasan terasa tumpul dan seringkali datang terlambat.

Pilkada yang mahal itu seperti bom waktu. Ia menciptakan tekanan luar biasa bagi yang terpilih untuk segera "mengembalikan investasi". Nah, ketika kekuasaan atas anggaran milyaran, proyek fisik, dan mutasi jabatan ada di satu genggaman tangan, godaan untuk menyalahgunakannya menjadi hampir tak terelakkan. Korupsi berubah dari pelanggaran menjadi konsekuensi logis dari sistem yang bobrok.

Operasi tangkap tangan KPK, meski efektif, seringkali hanya menyentuh permukaan. Di balik seorang bupati atau gubernur yang tertangkap, biasanya terbentang jejaring yang rumit; melibatkan birokrat, pengusaha proyek, dan politisi lokal yang saling menguatkan.

Kisah Riau: Jejaring yang Mulai Terungkap

Kasus di Riau ini menarik untuk dicermati. Selain menjerat Gubernur nonaktif Abdul Wahid, KPK juga mendatangi kediaman SF Harianto, sang Pelaksana Tugas Gubernur. Dari sana disita sejumlah dokumen dan uang tunai.

Memang, Harianto belum ditetapkan sebagai tersangka. Penggeledahan bukan vonis. Tapi langkah KPK itu mengirim sinyal kuat: korupsi di tingkat daerah jarang sekali bersifat tunggal. Ia adalah penyakit sistemik yang menjalar dalam lingkar kekuasaan, bahkan di masa transisi sekalipun. Posisi Plt yang seharusnya bersifat sementara dan terbatas pun ternyata rentan terseret jika tata kelolanya abu-abu.

Lalu, Solusinya Apa?

Masalah utama kita adalah negara kerap berpuas diri pada tahap penindakan. Padahal, tanpa membenahi sistem, OTT hanyalah ritual tahunan yang tak menyelesaikan akar masalah. Beberapa langkah mendesak harus segera dipertimbangkan.

Pertama, soal biaya politik. Ini akar segala kejahatan. Selama pilkada mahal, korupsi pasca-jabatan akan selalu ada alasannya. Perlu keberanian politik untuk mereformasi pembiayaan kampanye secara total. Perkuat pembiayaan publik, audit yang ketat, dan tindakan tegas terhadap praktik "mahar" yang sudah jadi rahasia umum.

Kedua, kekuasaan kepala daerah harus dibatasi dan didistribusikan ulang. Konsentrasi wewenang yang terlalu besar itu berbahaya. Proyek strategis dan perizinan bernilai tinggi harus dikelola dengan mekanisme kolektif yang transparan, bukan lewat keputusan satu orang.

Ketiga, pengawasan internal. Inspektorat daerah harus benar-benar independen, bukan sekadar stempel atas nama bupati atau gubernur. Hasil pemeriksaan BPK dan inspektorat harus terbuka untuk publik, agar kontrol sosial bisa bekerja.

Keempat, transparansi mutlak. Sistem pengadaan elektronik dan penganggaran elektronik harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan sebagai formalitas belaka. Isi jabatan di birokrasi pun harus murni berdasarkan kompetensi, bukan balas jasa politik.

Kelima, konsistensi. Penegakan hukum pidana harus berjalan beriringan dengan sanksi politik yang membuat jera. Pelaku korupsi harus kehilangan hak politiknya. Tanpa itu, korupsi hanya akan dilihat sebagai risiko pekerjaan, bukan kejahatan yang memalukan.

Akhir tahun seharusnya bukan sekadar perayaan atas penangkapan. Rentetan kasus ini adalah alarm peringatan bahwa pondasi demokrasi kita di daerah sedang keropos. Regulasi numpuk, lembaga berdiri, tapi niat untuk membongkar persoalan dari akarnya kerap setengah hati.

Jika siklus korupsi kepala daerah ini terus berulang, yang gagal bukan cuma oknum pejabatnya. Sistemnyalah yang bobrok. Sistem yang membiarkan kekuasaan tak terkontrol dan biaya politik tak terbendung. Tanpa perubahan mendasar, kita hanya akan terus disuguhi kejutan pahit setiap akhir tahun, sementara negara terus membayar utang korupsi yang tak pernah lunas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler