Menurut sejumlah saksi, saya dituding sebagai buzzer bayaran, dikatakan sebagai alat politik orang lain. Padahal, saya cuma warga biasa. Benar-benar biasa. Yang cuma punya kepedulian lebih terhadap negara ini.
Perjuangan saya dulu sepi. Sendirian. Saya cuma seorang penulis dan pebisnis kecil. Modal utama cuma rasa prihatin yang dalam.
Saya bukan buzzer. Bukan politikus. Bukan pula aktivis kawakan. Saya manusia biasa saja.
Semua itu sudah saya terima dengan ikhlas. Kini, harapan saya cuma satu: semoga kita belum kehilangan semua waktu untuk membenahi keadaan. Aamiin.
(Jonru Ginting)
Artikel Terkait
Sertifikat Menumpuk, Kompetensi Tergerus: Dampak Pandemi yang Mengubah Wajah Pendidikan
Generasi Layar: Saat Ponsel Menggerogoti Kemampuan Fokus Anak Muda
Mobil Terbakar Hebat di Jagorawi, Lalu Lintas Malam Terkunci
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman